Rabu, 27 Desember 2017

Elegi : Jangan Pernah Lupa Lagi


Aku tidak tahu harus memilih jalan mana. Aku sendiri tak begitu paham apakah ada pilihan untuk kuputuskan. Seperti hanya tersedia satu hal yang memang harus aku hadapi. Aku merasa telah lelah dengan apa yang tengah kuhadapi. Lelahku terasa berada di ujung jalan buntu. Maju tak bisa. Mundur sudah terlalu jauh.
Putus pada asa.
Lelah pada keadaan.
Bercerita pada embun pagi. Bercerita pada terik matahari. Bercerita pada senja. Bercerita pada kunang-kunang di tepi malam.
Mereka berbicara perihal hidup dan harga kehidupan. Semua ucapan mereka tak begitu logis bagi otakku yang kalut. Bak omong kosong tiada punya arti.
Hatiku sedang menuju ajal. Berada pada batas waktu. Hanya menunggu saat lupa kedua itu tiba.
---
Aku melihat aku di masa depan. Ia memperkenalkan diri dengan ceria. Dengan nama dan wajah sama namun suasana hati yang jauh berbeda. Ia mengajaku bercengkrama tentang ini dan itu. Beberapa saat kemudian, ia pun pamit dengan kalimat-kalimat terakhir yang memesona sukma.
“Kamu bisa menemuiku lagi, nanti, beberapa saat lagi, asalkan kamu lupakan keinginannmu untuk kembali lupa. Tebuslah harga hidup melalui penghargaan untuk setiap kasih yang terus kamu terima. Terimalah pesan dari surga. Bahwa kamu harus mengingat pada apa yang kamu lupa untuk pertama kalinya. Bahwa, Kamu punya iman 
…. Segera, temukanlah aku saat kamu berkaca di depan cermin”.
---

Aku terbangun,


---

Rabu, 13 Desember 2017

Resensi Buku "The Divine Message of The DNA (Tuhan dalam Gen Kita)" Karya Kazuo Murakami, Ph.D.

IDENTITAS BUKU

Judul                     : The Divine Message of The DNA (Tuhan dalam Gen Kita)
Penulis                  : Kazuo Murakami, Ph.D.
Penerjemah           : Winny Prasetyowati
Penerbit                 : Mizan Pustaka
Tahun Terbit         : Cetakan II, Juni 2007
Jumlah Halaman  : 217 Halaman
 

Gambar 1. Cover Buku The Divine Message of The DNA (Tuhan dalam Gen Kita).

Penelitian dalam ilmu tentang tentang kehidupan terus berkembang dengan kecepatan yang mengagumkan,  bahkan melebihi ekspektasi mereka yang bekerja dalam bidang ini. Seluruh kode genom manusia baru berhasil dipecahkan. Walaupun pada awalnya penulis buku ini percaya bahwa dengan menafsirkan kode genetik itu akan memecahkan misteri kehidupan, semakin lama semakin jelas bahwa hidup tidaklah sesederhana itu. Karakteristik genetik yah diturunkan dari generasai ke generasi selama ini dianggap bersifat tetap dan niscaya.
Secara pribadi, penulis melihat bahawa baik ilmu pengetahuan dan agama berasal dari sebuah sumber yang sama, dan oleh karenanya beliau mencari cara untuk menyatukannya. Beliau memiliki tiga saran, yaitu (1) miliki nilai yang mulia, (2) hidup dengan rasa terima kasih, dan (3) berpikir positif. Melalui segala pengalaman penulis mempelajari gen, penulis menyadari bahwa jika dapat belajar untuk hidup dengan gen-gen yang baik kita dinyalakan, kita akan dapat mengerahkan potensi yang jauh lebih besar daripada biasanya.
Buku ini menawarkan perspektif baru: pikiran dapat mengaktifkan gen-gen positif dan menonaktifkan gen-gen negatif. Buku ini memaparkan banyak rahasia tentang hubungan pikiran dengan gen kita. Berdasarkan temuan-temuan ini, dan fakta bahwa kode genetik terlalu kompleks untuk terbentuk secara kebetulan, Kazuo Murakami, Ph.D. berkesimpulan bahwa ada kekuatan yang lebih besar di alam semesta ini. Ia menyebutnya sebagai “Sang Agung”. Ia yakin bahwa segala kehidupan datang dari sumber itu – sang asal mula, atau yang kita sebut sebagai Tuhan.
Meski merupakan buku terjemahan, namun bagi saya bahasa yang digunakan dapat dimengerti dan sesuai dengan apa yang dikehendaki penulis. Seperti yang telah dipaparkan sebelumya, konten buku ini didasarkan pada pengalaman pribadi penulis, jadi saat membacanya kita akan seperti dibawa pada situasi dan kondisi saat kejadian, meski kita tentu berada di ruang dan waktu yang berbeda.
Bagi pembaca yang tidak berlatar belakang di bidang sains, mungkin akan merasa asing dengan banyak istilah biologi, seperti gen, genom, enzim renin, dan rekayasa genetika. Tapi, tenang saja, penulis buku ini begitu apik dalam membahas istilah-istilah tersebut secara sederhana, sehingga dapat dipahami oleh semua pembaca dengan berbagai macam latar belakang. Meski bagi saya masih ada bagian yang terlalu teknis sehingga mungkin masih membingungkan bagi sebagian pembaca yang awam terhadap sains,  seperti pemaparan produksi protein manusia dari bakteri E. coli.
Pengalaman ilmiah penulis yang mengantarkannya pada keyakinan bahwa proses genetik dalam setiap makhluk hidup yang sangat kompleks tersebut bukanlah sebuah kebetulan, tetapi ada yang mengatur, beliau menyebutnya “Sesuatu Yang Agung” baginya tidak mungkin kebetulan akan seterstruktur dan serumit itu. Saya juga merasa kagum dengan penulis, yang memilih untuk meyakini “Sesuatu Yang Agung” dibandingkan dengan menuhankan ilmu pengetahuan itu sendiri seperti banyak ilmuwan di era modern. Buku ini dapat dibaca oleh semua penganut agama, penulis memposisikan diri senetral mungkin dan tidak menitikberatkan pada agama tertentu.
Selain itu, ada hal lain yang mebuat saya tertarik untuk terus membaca buku ini sampai kalimat terakhir, yaitu saat membaca buku ini saya tidak merasa sedang diajari atau sedang dimotivasi oleh motivator melalui sebuah buku, hal ini tampak dengan banyaknya penggunaan kata kita dalam buku ini, saya lebih merasa diajak berpikir bersama-sama dengan penulis sampai pada akhirnya saya belajar dan termotivasi dengan kehendak saya sendiri tanpa merasa digurui.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Bait Baik



BAIT BAIK
Oleh: Suci Anadila Nurkaromah

Tugas kita sebagai manusia hanyalah mengusahakan yang terbaik,
dengan proses ikhtiar yang baik.
Bersimpuh sungguh-sungguh kepada-Nya meminta baik-baik.
Perkara ‘hasil’ yang baik?
Serahkan saja pada Sang Maha Pemberi Keputusan terbaik,
yang paling mengerti mana yang lebih baik.
Agar diberi yang menurut-Nya terbaik.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Genangan Kenangan



Genangan Kenangan
Oleh: Suci Anadila Nurkaromah

Sudah terlanjur.
Kupungut remah-remah harap yang kausebar dalam ingatanku.
Kusimpan pertanda kesetiaan.
Bahkan kuberi racikan pengawet dari kepercayaanku.

Kemarau telah berganti  penghujan.
Hujan.
Hujan Rindu.
Hujan Rindu Menderas.
Menggenangkan kenangan.

Harapan.
Harapan semakin dekat dengan angan.
Harapan.
Harapan semakin jauh dengan kenyataan.

Aku di sini.
Kau di sana.
Biarlah takdir Ilahi yang mengkhiri cerita ini.

Sabtu, 24 September 2016

Aku Ikhlas!



Aku Ikhlas!
 
Selenting berita bersamaan berpulangnya senja. Malam itu sunyi tetiba bercerita, membisik pada hati. Tentang kepergianmu. Seketika mengaduk-aduk perasaan. Pertahananku runtuh tepat dibatas asa. Ini air mata ataukah hujan? Deras sekali di antara sunyi.

“Mulai detik ini. Ada banyak hal yang harus dibiasakan dari kehilangan”

Saat itu, alunan lagu-lagu bahagia tidak membahagiakan. Bahkan kata-kata tentang cinta tidak membuat hatiku berbunga-bunga. Saat itu, kata-kata perihal sabar seolah tabu untuk aku dan hatiku perbincangkan.

“Mengapa? Melepaskan. Mengikhlaskan. Selalu saja menarik perhatian kenangan-kenangan?”

Biarlah yang pergi hanyalah raga, nama, atau apa-apa yang fana. Semoga tidak dengan ikatan ini, yang sudah tertaut dengan-Nya, yang lebih dari sekedar keidentikan DNA.

Aku Mencintaimu. Teramat Mencintaimu. Tapi, Allah Jauh Lebih Mencintaimu
Aku Ikhlas! (Meski Sulit, Tapi Harus)

~Its been along day without you, I tell you all about it when I see you again~

<3 Uhibbuk fillah <3
Dariku yang merindukanmu,
Dila

Sabtu, 17 September 2016

Selamat Pagi, Ayah!



Selamat Pagi, Ayah
Oleh: Suci Anadila Nurkaromah
 
Derap langkah menjelma nada-nada berirama
Kemudian menghambur dalam peluk kasih
Mendekapku jatuh dalam degup jantungmu
Hingga kuncup pagi tertinggal jejak sejuknya embun
Selamat pagi, Ayah
Ada separuh dunia dalam tegarmu
Maaf tak selalu sedia melepas baju lelahmu
Terlalu larut saat hadirmu mengecup malam
Bersama fajar biar kurengkuh rapuh asamu
Telah belasan kali mentari berevolusi
Menjadi saksi bisu perjalananmu mengawalku
Mencintaiku serupa tentram pada siluet pagi
Kini giliranku memukul telak para penghunus peluhmu
Tetaplah di sampingku arungi fatamorgana dunia
Memintal setiap mimpi berkelambu kasih Ilahi
 Majalengka, 23 Juli 2016