Senin, 18 Mei 2015

Cerpen Kimia - Kalium itu Aku


KALIUM
ITU
AKU

 “Khoirunnaas anfauhum linnaas” sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Sesosok manusia itu menyebutnya adalah hadis, sabda Rasulullah yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani. Ah, hadis itu sejak pertama kali aku mendengarnya, terus menerus terngiang-ngiang ditelingaku. Suara itu seperti terus memantul dan menggema jelas. Sayangnya aku lupa siapa seseorang itu, yang memberitahuku tentang hadis itu, padahal ingin sekali aku mengucapkan terima kasih padanya.
          Kalimat simpel itu membuat hormon adrenalin ku bekerja lebih keras dari biasanya. Sangat tertantang, itulah yang ku rasakan. Lihatlah dunia, dengan izin Allah pencipta semesta alam, aku akan sumbangsikan hidupku untuk kemashlahatan semesta.
          Oh ya, biar lebih akrab aja, namaku adalah, sebut saja kalium atau teman-temanku juga ada yang memanggil pottasium. Terserah deh panggilnya mau yang mana, haha. Dalam daftar nama di kotaku sistem periodik unsur namaku biasanya akan dilambangkan dengan K saja, unik bukan?. Oh iya, massa jenisku adalah 0,97 .
          Menemukanku di kota sistem periodik unsur gampang saja. Aku tinggal di jalan periode 4 nomer rumah 19, blok alkali (I A). Karena rumahku berada paling ujung kiri kota, jadi hanya punya tiga tetangga paling dekat yaitu Natrium, Kalsium, dan Rubidium. Awas salah nih, biasanya suka ketuker, salah denger dikit kalsium disangka kalium lagi, dan sebaliknya haha. Padahal kita adalah dua unsur yang berbeda.
          Aku sangat menyukai kotaku, disini kami tinggal harus beraturan. Mulai blok, nomor rumah. Pokoknya terstruktur sekali deh. Sekali-kali kalian main deh ke sini, hehe.
          Blok alkali terdiri dari unsur-unsur yang paling reaktif diantara seluruh warga kota sistem periodik unsur yaitu Hidrogen, Litium, Aku, Rubidium, Cesium dan Fransium. Jadi kebanyakan dari kami sangat mudah berbaur dengan yang lain. Rumahku di blok Alkali (IA), dibalik sifat kami yang mudah berinteraksi dengan yang lain, saat ingin berikatan kami harus rela melepas satu elektron. Dari sini aku belajar tentang sabar yang tak berbekas dan ikhlash yang tak mengharap balas.
          Kenyataan hidup yang cukup pelik, aku terlahir harus melalui proses elektolisis hidroksida terlebih dahulu. Terkadang aku merasa iri pada unsur lain yang bisa bekeliaran di alam bebas sendiri. Sedangkan aku harus berikatan berikatan dengan senyawa lain dulu. Ahh, betapa kufur nikmatnya diriku ini. Padahal masih banyak nikmat Allah yang patut ku syukuri.
          Perjalanan baru akan dimulai, setelah aku paham bahwa hidup bukan sekedar kebetulan, Allah tidak senantiasa menciptakan sesuatu apapun dengan sia-sia tanpa makan apapun. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa akupun sama seperti yang lain. Potensi yang sama. Menjadi unsur yang bermanfaat bagi semesta. Cayo!
          Tiba-tiba handphone ku bergetar, ternyata panggilan dari sahabatku.
          “Assalamu’alaikum, ada apa Natrium?” kataku setelah menekan tombol hijau pada handphoneku.
“Wa’alaikumussalam, Loh kok nanya sih, kita kan ada janji hari ini?” Jawab Natrium dengan nada kesal.
“Janji apa, aku benar-benar lupa” timpalku.
“Ahh, dasar kau ini. Kita kan mau pergi ke sawah untuk menjalankan first mission kita membantu menyuburkan padi petani yang sedang berkembang” masih dengan nada kesal.
“Masya Allah, iya maaf. Yasudah tunggu sebentar, nanti aku jemput yahhh...” kataku.
“tut...tut...tut...” sambungan telpon terputus.
          Segera kusiapkan tenaga seribu kuda untuk first mission kali ini bersama Natrium. Titik didih semangatku telah mencapai puncaknya yaitu 760 oC. Ku langkahkan kaki dengan semangat penuh menuju rumah Natrium. Yang padahal tetanggaku sendiri, haha. Semangatku terpacu. Mudah-mudahan misi pertamaku ini berjalan lancar.
          Padi itu mulai menghijau, memerlukan nutrisi lebih dari sebelumnya. Petani itu meminta kami untuk bersenyawa dengan Natrium. Awalnya aku merasa tak percaya bisa berdampingan dengan baik bersama Natrium yang notabene sudah jauh lebih berpengalaman dibanding aku.  Natrium mampu membuatku yakin untuk berangkat hari ini, meyakinkan bahwa aku pasti bisa mewujudkan mimpiku, Nothing impossible in the world, katanya. Juga hadis itu yang masih terus saja terngiang di alam bawah sadar ku.
          Urusanku dengan petani itu telah usai, dua minggu kemudian petani itu kembali menghubungi aku dan Natrium. Mengucapkan terima kasih, karena padinya berkembang dengan sangat baik dan sekarang mulai berbunga. Kalian tahu? Betapa tak bisa diungkapknan dengan kata-kata perasaanku pada saat itu.
          “Syukron katsiiron Natrium kau telah mengajari ku arti berbagi arti bermanfaat makna hadis itu untuk pertama kalinya”
“Hidup ini berputar, kebaikan pun berputar, mungkin kali ini kau yang dipilih Allah untuk mendapatkannya, akan ada saatnya kau yang harus menjadi lebih berarti bagi yang lain”
Sejak saat itu, Natrium sudah lama tak terlihat lagi, entah kemana, namun aku terus menjalankan misi-misi yang telah dirancang bersamanya sebelum ia menghilang. Meski terpaksa bukan bersamanya melainkan bersama teman Natrium.
Hidup adalah sebuah perjalanan yang tidak selalu berjalan di atas aspal jalan tol yang mulus-mulus aja. Hidup adalah cakupan dari semua hal, tikungan tajam, jalan berliku, jurang dalam yang siap menerkam siapa saja yang lengah, dan banyak lagi. Itulah uniknya hidup. Akan bermakna hanya bagi mereka yang mau memaknainya.
Semua berjalan lancar. Namun tidak setelah aku secara tak sengaja, siang itu aku bertemu dengan Kromat (Cr2O7). Aku mengobrol cukup lama, ternyata ia kenal juga dengan Natrium, katanya dulu ia pernah bersenyawa dengan Natrium untuk sebuah misi yaitu mencegah pembentukan karat pada sistem pendingin dan radiator. Dan misi itu berhasil. Akupun akhirnya bercerita tentang natrium dan mimpiku.
Tiba-tiba ia juga mengajakku untuk berkoalisi yang katanya juga bisa mewujudkan keinginanku untuk bermanfaat bagi semesta. Tanpa berfikir panjang, entah mengapa, aku seakan terhipnotis mau saja diajak untuk berkoalisi dengannya untuk sebuah misi yang aku sendiri belum begitu mengerti. Mungkin karena ia pernah bersenyawa dengan Natrium? Entahlah. Yang jelas aku menaruh harapan lebih pada misi ini. Mimpiku, kembali menggebu. Mungkin karena aku tergolong unsur yang sangat reaktif. Bisa jadi.
“Tenang saja, semua telah ku atur, kita tinggal melaksanakan misi kita yang sudah bicarakan kemarin” ucap Kromat dengan meyakinkan.
“Ok, siap laksanakan!” kataku menyambut ucapan Kromat dengan semangat.
“Good...Good!” kata Kromat.
Pertemuan kedua itu yang kembali secara kebetulan, kami berpapasan di gang blok Alkali tanah saat aku ingin kembali ke rumah.
          Waktu yang telah ditentukanpun tiba, aku bersama kromat (Cr2O7) pergi ke sebuah laboratorium, dan apa yang terjadi? Orang yang mencium senyawa kami mengalami keracunan. Hidupku berasa sangat tidak berarti saat itu, menyesal sekali percaya saja pada dia, padahal baru saja aku mengenalnya. Dimana Natrium, aku sangat merindukannya terlebih pada keadaan seperti ini.
          Kromat meniggalkanku tanpa jejak dan kabar, entah apa yang membuat ia tega berbuat demikian padaku, meninggalkan pula setumpuk penyesalan yang entah harus kutebus dengan apa. Ingin rasanya ku akhiri hidupku saat itu  juga.
 Andai saja, aku mampu memutar derasnya detik waktu yang terus bergulir. Aaarrrrggghhh! Pemikiran pengecut itu kembali menggentayangi otakku. Titik didih semangatku jatuh sejatuh jatuhnya pada titik paling rendah 97,8 oC.
          “Penyesalan tak kan ada artinya tanpa perubahan, Kesempurnaan hanya milik Allah, bangkitlah, Allah selalu bersama kita”
          Suara yang tidak asing ku dengar, memecah kosongnya jiwa ku yang meratap atas kesalahanku. Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Saat yang aku inginkan untuk mengulang waktu dan tidak melakukan misi itu, Allah hadirkan kembali Natrium.
          Yap, Natrium ia secara tiba-tiba berada di depan mataku. Dengan senyum tulus penuh keikhlasan. Refleks, tubuhku beranjak dari posisi ku saat itu langsung berhambur di pelukan sahabat yang telah lama tak ku jumpa.
“Kemana saja?” lirihku.
“Tak semua hal harus ku ceritakan” timpal Natrium.
“Baiklah, tapi jangan pergi lagi, kumohon” pintaku.
“kita adalah unsur-unsur yang dipersatukan Allah, bertemu dan berpisahnya kita pun sandarannya harus Allah” ucap Natrium dengan sangat tenang.
“iya, aku paham sekarang”
          Tak ada kesempurnaan di dunia ini, semuanya fana’, pada saatnya semuanya tidak akan bersisa, sama sekali, sama sekali tidak bersisa kawan. Semenjak hari itu, aku mulai kembali menyusun puzzle mimpiku yang yang pada awalnya mulai tersusun, terpencar kembali, sekarang aku akan mencoba mencari dan menatanya kembali. Bersama sahabatku, Natrium. Aku siap!
          Misi-misi selanjutnya cukup menantang tapi mengasyikkan. Natrium banyak mengajakku berpetualang, menjelajahi semesta yang indah ini. Samudra hidup bersamanya banyak mengajarkanku arti kehidupan. Perjuangan meraih impian yang tak instan.
          Ia  mengatakan bahwa puzzle mimpi itu tidak akan pernah tersusun tanpa satu hal, sampai  saat ini ia belum memberitahunya padaku. Suatu saat kau akan paham dengan sendirinya, katanya begitu .  

       Misi yang paling berkesan adalah saat kami mampu mengatur keseimbangan muatan elektrolit cairan tubuh manusia. Selain itu aku juga bekerja bersama dengan Natrium untuk sistem saraf yaitu dengan meneruskan pesan ke otak serta mengatur kontraksi otot.
Berasa bisa menebus kesalahanku dulu. Walaupun takkan pernah bisa. Puzzle ku mulai tersusun. Ku rasakan betapa nikmatnya bermanfaat bagi semesta. Kini mulai ku temukan esensi dari hadis itu dan mimpiku. Perasaan yang tak dapat di ungkap dengan kata, dituliskan dengan tinta. Oh ya, aku paham sekarang maksud dari Natrium, puzzle mimpiku takkan pernah tersusun tanpa satu hal, satu hal itu adalah Ridla Allah.
      Aku dikenalkan juga dengan beberapa teman Natrium, kadang aku juga bersenyawa dengan mereka untuk misi-misi tertentu.  Misal, dengan Oksigen (K2O) kami bersenyawa dalam baja. Dengan Hidroksida (KOH) kami bersenyawa untuk memperkuat besi. Dengan Nitrat (KNO3) kami bersenyawa untuk ubat bedil. Mmm, siapa lagi yah, oh ya dengan Karbonat (K2CO4) kami bersenyawa dalam pembuatan kaca, dan banyak lagi.
      Yang jelas banyak sekali hikmah dan pelajaran yang kupetik setiap bersenyawa dengan unsur atau senyawa lain. Subhanallah, proses ini pula yang membuatku lebih memahami arti sebuah perjalanan. Bukan seberapa cepat kita mencapai tujuan atau seberapa kal kita terjatuh. Tapi bagaimana proses kita mendapatkannya.
Terima kasih Kotaku tercinta, Sistem Perodik Unsur. Terima kasih, Semua warga sistem periodik unsur terkhusus Natrium yang katanya memiliki kemiripan sifat dengan ku. Berkat kalian puzzle mimpiku mulai rampung. Terima kasih buat kau entah siapa yang telah membuatku tahu hadis itu. Terima kasih, Terima kasih, Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah, segala puja dan puji hanya teruntuk Engkau, Ridla-Mu membuat hidupku terasa hidup. Terima kasih ya Allah, rencana Mu indah .
       Aku memang bukanlah unsur yang sempurna, tapi Aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Tanpa lelah, melangkah merangkai mimpi hingga Allah memelukku kembali. Kalium, itulah Aku.




Ma’had Al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Minggu, 23 Nopember 2014 17:10



BIODATA PENULIS

       Nama lengkap saya Suci Anadila  Nurkaromah, lahir pada tanggal 17 April 1997 di Majalengka. Mojang asli Majalengka dari keluarga sederhana, anak sulung dari empat bersaudara. Hobi baru saya menulis, menulis laporan terutama, haha. Kalimat yang tersusun dalam tulisan adalah ungkapan hati dan cerminan pemikiran, saya mulai mencintai dunia tulis menulis :D.
     Mahasiswi tahun pertama tepatnya semester satu di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon dengan NIM 1414163159. Jurusan Tadris IPA Biologi kelas D Angkatan 2014, yang baru saja melewati masa-masa indah putih abu di MAN Jatiwangi, juga lulusan MTs Badruzaman dan SDN Mandapa I.
       Motto hidup saya adalah “Man Jadda Wa Jada”, karena kesungguhan adalah kemauan yang dibarengi dengan
usaha juga do’a.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar