Sabtu, 21 Februari 2015

JEMBATAN SEMU


JEMBATAN SEMU
Oleh: Suci Anadila Nurkaromah
    

Jika untuk menghubungkan dua daratan yang tersekat sungai, laut, jurang atau hal apapun itu memerlukan sebuah penghubung berupa jembatan atau sejenisnya. Maka begitu juga dengan hidup, merupakan sebuah keniscayaan dari proses satu ke proses yang lain ada dua hal yang tersekat dan memerlukan suatu penghubung. Apakah pembicaraan ini mengarah tentang cinta, untuk menghubungkan perasaan aku dan kamu atau tentang sinapsis yang menghubungkan satu neuron ke neuron lainnya? bukan, bukan tentang itu.
Pembicaraan ini lebih berarah pada sebuah perjalanan penggalan episode hidup. Seorang anak remaja, setengah labil, baru saja akan lulus dari sekolah tingkat atasnya, perjalanan sekolah terakhir yang akan segera menjadi kenangan indah baginya. Selayaknya teman sebaya dengannya, saat-saat seperti itu bagai menemui jalan buntu yang di depannya terdapat  jurang yang berujung pada sebuah titik yang terlihat sangat jauh di sana. Berjalan, langkah kaki belum mampu menjangkau. Terbang, tak ada sayap yang bisa dikepakkan. Hanya butuh bimbingan, mungkin.
Banyak gerbang menuju sesuatu yang baik dibalik jurang curam itu. Percayalah, Allah, Tuhan pecipta semesta alam, akan selalu menunjukkan jalan hidup yang terbaik bagi setiap ummatnya, dengan cara-Nya, yang terkadang tak terjangkau oleh akal yang terbatas.  Cuma itu yang bisa ia percayai. Allah.
Mungkin ini adalah jawaban masalah yang berkecamuk dibatinnya. Kisah nyata ini berawal dari telepon seorang guru kimia di MAN Jatiwangi kepada salah seorang siswi kelas XII di sekolah tersebut, pada jam dimana lembayung senja mulai menyelimuti angkasa. Mengabarkan bahwa besok ada tes seleksi beasiswa perintis 4 Jawa Barat di MAN Rajagaluh. Sebuah beasiswa berupa bimbingan belajar gratis yang diseleggarakan oleh LPP Salman ITB  untuk para pejuang PTN seluruh pelosok Nusantara. Keesokan harinya 15 orang delegasi dari MAN Jatiwangi berangkat ke sana dengan berbekal persiapan dari sisa-sisa ingatan materi setelah rentetan ujian UM dan UAMBN. Kesannya mungkin tanpa persiapan dan hanya karena perintah guru, tapi jangan salah, kenyataanya ke 15 delegasi berangkat dengan semangat karena Allah ingin terus melanjutkan studi.
Salah satu delegasi itu adalah penulis sendiri. Setelah menunggu pengumuman kelulusan satu bulan setelah tes seleksi. Alhamdulillah,  percaya tidak percaya namaku tercantum sebagai satu dari dua perwakilan kabupaten untuk mengikuti learning camp beasiswa perintis 4 selama satu bulan di Bandung, tepatnya Lembang-Cimahi. Sebuah kabar gembira tak selamanya menggembirakan. Kelulusan ini sempat membuatku kalut antara ikut atau tidak.
Niat, tekad dan keberanian yang mengantarkanku akhirnya berada di Bandung. Berangkat hanya bersama teman se-kabupaten yang sama-sama lulus, itupun baru saja Aku kenal. Akan jauh dari orang tua dalam jangka waktu yang cukup lama. Kembali belajar saat teman-teman lain sudah bersantai karena ujian nasional telah usai. Semuanya tak biasa bagiku, sempat ragu itu menggentayangi pikiran, namun Aku berpikir jika terus berada dalam zona nyaman kapan bisa maju?.
11 Mei – 7 Juni 2014, hari-hari yang akan berbeda dari biasanya.  Masjid Salman menjadi pijakan pertamaku saat di Bandung. Setelah semua peserta berkumpul, kami berangkat menuju persinggahan pertama kami yaitu PUSDIKAJEN Lembang, dimana kami akan ditempa dan digembleng selama kurang lebih 12 hari bersama para pembimbing dari panitia dan tentara.
 Kami dikumpulkan di aula terlebih dahulu, saat di sana Aku masih saja tak percaya berada di tengah-tengah orang-orang pilihan dari seluruh penjuru negeri. Kurang lebih 150 oranng. Kami berkumpul dengan tujuan yang sama. Memperjuangkan pendidikan kami. Merdeka!.
Karena berada di lingkungan militer mau tak mau semua juga harus mengikuti aturan militer dari mulai kemana-mana harus baris yang rapih sambil nyanyi, masuk ruang makan harus hormat sambil menghentakkan kaki dan makan diwaktu, yang sangat ku ingat adalah salah satu perkataan dari Komandan Aang yaitu  “Setiap kalian akan melakukan perpindahan tempat, baris yang rapih, jalan sama-sama, nyanyi sama-sama”, mungkin jika dihitung-hitung lagu yang mereka ajarkan pada kami sudah bisa dibuat mini album. Dua belas hari berlalu, kami pun digiring berpindah dari Lembang ke PUSDIKIF Cimahi sampai learning camp usai, di sini kami menghabiskan sisa-sisa waktu kebersamaan.
Selama Learning Camp, hari Senin sampai Jum’at kami belajar di kelas seperti biasanya di sekolah dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Kadang malam harinya bagi siapa saja yang mau belajar bareng, ada tutor tambahan bersama para pembimbing. Setiap hari Sabtu diadakan evaluasi, semacam latihan agar kami sudah terbiasa jika nanti harus ikut ujian tulis. Hari Minggu terkadang menjadi kelabu, karena hari itu hasil evaluasi keluar, apalagi jika tidak memuaskan. Selain kegiatan akademik, ada juga kegiatan lain seperti senam pagi bersama, outbond setiap hari minggu, nonton bareng, latihan kemiliteran, training motivasi dan lain-lain. Seru banget pokoknya.
Evaluasi minggu ketiga,  hasilnya tidak memenuhi passing grade. Jika hari biasanya setiap malam kami hanya disuruh ngemil dengan mengerjakan 100 soal, jika yang tidak memenuhi passing grade konsekuensinya harus mengerjakan 400 soal selama satu hari satu malam. Pagi hari setelah hasil evaluasi keluar, di depan barak sudah terdapat jemuran soal berbau SBMPTN yang sepertinya telah siap disantap. Jemuran soal seperti ini mungkin hanya ada eksklusif di learning camp beasiswa perintis 4.  Kedengarannya tak mungkin bisa dilakukan, karena pagi hari sampai siang  harus tetap belajar di kelas, kenyataannya bisa walaupun hanya tiga perempatnya, tapi itu tetap dihargai para pembimbing. Perjuangan sekali.
Beberapa hari sebelumnya, pengumuman kelulusan yang paling ditunggu semua peserta yaitu SNMPTN sudah dibuka, entah harus sedih atau senang, tulisan dengan warna  merah itu menjadi penghias namaku dan tulisan hijau menjadi milik teman dekatku selama di Learning Camp. Pelik memang. Selain itu, Aku juga harus menerima kenyataan bahwa harus merelakan dia pergi terlebih dahulu. Ia telah menyelesaikan jembatannya lebih cepat. Diiringi derai air mata, genggaman erat tangan ini harus melepasnya pergi. Di sini Aku belajar ikhlas.
Selama learning camp berlangsung suasana belajar benar-benar terbentuk dengan baik, dari sini Aku banyak menemukan cara belajar yang bermacam-macam, yang biasa maupun ekstrim, seperti ada yang sempetin tidak ikut senam pagi dengan alasan piket padahal belajar, terus yang lebih membuat tercengang adalah ada salah seorang peserta yang saat Aku akan tidur dia masih sedang berkutat dengan buku-bukunya saat Aku bangun pun dia sedang asyik dengan buku-bukunya, seakan semalaman suntuk ia hanya belajar. Tapi hal-hal seperti itu yang membuat Aku semakin termotivasi untuk tidak patah semangat dalam belajar. Semua kakak-kakak pembimbing dan teman-teman di sana juga selalu sama-sama saling bahu membahu memberi semangat satu sama lain.
Learning Camp ini mungkin bagi sebagian orang hanya hal sepele dan biasa saja. Tapi bagiku bukanlah hal biasa. Karena learning camp bukan sekedar memfasilitasi kami tentang akademik tapi juga secara mental agar kami siap dengan segala resiko yang mungkin terjadi ke depan. Membuat kami disiplin, dengan bimbingan para TNI pula. Tak kalah penting juga penanaman nilai-nilai spiritualitas dan ukhuwah yang terjalin begitu kental terasa, shalat berjama’ah, puasa sunnah dan shalat malam bersama, semakin memperat kekeluargaan antara kami. Melalui perintis Aku juga bisa mengenal banyak teman-temanku di banyak pelosok nusantara.
Dua puluh empat jam bersama meski hanya selama satu bulan, dalam satu barak, satu kelas, satu learning camp. Belajar bareng, puasa bareng susah senang bareng, ketawa nangis bareng, makan bareng, mandi bareng. Banyak hal yang membuat kami menjadi lebih dekat satu sama lain. Mereka semua bagai alarm hidup yang selalu berdering saat rasa malas untuk belajar mulai membelenggu.
Learning camp ini membuat Aku banyak memahami. Tak hanya belajar hitung-hitungan, rumus-rumus fisika, kimia atau matematika, teori-teori. Banyak juga ilmu kehidupan yang tidak akan sama jika didapatkan di tempat lain, pada esensinya hal inilah buah tangan paling berharga selepas perintis 4 berakhir.
Jembatan yang ku buat mungkin belum sekokoh mereka agar bisa bersama-sama berjalan di atasnya menuju gerbang di baliknya. Mereka banyak yang telah jauh lebih dulu dan Aku masih harus terus berjuang menyelesaikan. Jembatan kami semua memang bertujuan sama tapi dengan tempat yang berbeda-beda. Sebuah misteri Ilahi, tapi masih bisa kita rencanakan, namun rencana Allah tetap paling baik. Kini jembatanku yang satu ini sudah rampung sejak beberapa waktu lalu. Meski dengan kegagalan demi kegagalan, jatuh kemudian bangkit berulang kali, tergopoh-gopoh. Dari teman-teman perintis 4 Aku banyak belajar arti sebuah perjuangan yang tak instan. Belajar tentang ikhlas tiada berbatas, syukur tidak berukur, toleransi, dan sabar  karena Allah.
 Perintis 4 adalah almamaterku, ia yang telah membantu membuat jembatanku kokoh, gerbang diujung jembatanku tak lagi misteri, kini telah terbuka. Alhamdulillah. Ujung dari jembatanku adalah gerbang dimana sekarang tempatku menuntut ilmu.
Ternyata Bukan jurang, itu bukanlah  jurang, tak lebih dari jalanan biasa yang tertutup fantasi anak remaja setengah labil yang gamang akan nasibnya di masa depan, sebenarnya ia hanya perlu arahan untuk bisa melewatinya, jurang itu hanya kamuflase dan gerbang itu nyata. Mungkin akan banyak jembatan-jembatan semu lain yang menanti suatu saat ini. Pengalaman berharga ini kelak akan menjadi salah satu guru yang paling hebat bagiku.
“Awalnya terasa berat dan tak biasa...” Penggalan lagu kebangsaan perintis 4 ini sesuai dengan kenyataan yang kami rasakan. Awalnya saat kami mejalani learning camp perintis 4 terasa aneh, mungkin tidak betah dan waktu menjadi lebih lama dari hari-hari biasanya. Padahal kata siapa sebulan itu lama? Sekarang perintis 4 telah hampir setahun berlalu. Meski waktu selalu tega mengikis pertemuan yang telah semakin erat, namun ia tetap menyisakan deretan kenangan di memori jangka panjangku. Tak perduli di gerbang tempat mana saat ini kami berada. Kami sekarang adalah keluarga, “keluarga perintis 4”.
Inilah perkataan Kang Ridwan sebagai kepala sekolah perintis 4 yang masih terpatri diotakku “inilah kami yang bahagia melihat kalian bangkit melangkah menuju cita. Do’a kami menyertaimu, Dek. Semoga Allah selalu memudahkan kalian menuju jalan kebaikan”. Semoga Allah mengijabah doanya dan membalas dengan yang lebih baik. Amin. Aku yakin, ditempatkan dimanapun berlian akan tetap bernama berlian. Berkilau.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar