Minggu, 01 Maret 2015

Mengupas Tuntas Valentine's Day


Late post sihh, tapi Insya Allah ada manfaatnya :).
Valentine’s Day merupakan perayaan hari kasih sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari oleh para muda-mudi masa kini. Perayaan ini identik dengan tukar menukar kado, coklat, terkadang juga bunga. Setiap menjelang valentine’s day biasanya banyak bertebaran baik berupa pamflet, spanduk yang berisikan ajakan untuk merayakan hari kasih sayang tersebut dipinggir-pinggir jalan sampai gang-gang kecil. Banyak pula toko-toko yang menjajakan makanan atau benda yang berbau valentine’s day.
Mengenai sejarah valentine’s day, para sejarawanpun berbeda pendapat, tetapi yang masyhur digunakan adalah bahwa sejarah valentine’s day bermula pada abad ke-3 M, dimana berkuasa seorang Kaisar Romawi bernama Claudus II. Dengan kekuasaannya, dia menghukum pancung seorang pendeta bernama Santo Valentine pada tanggal 14 Februari 269 M. Santo Valentine dihukum pancung lantaran menikahkan seorang remaja (prajurit) muda yang tengah menjalin cinta kasih, sehingga dianggap telah menentang ketentuan kerajaan. Alasan ketentuannya, karena prajurit kerajaan yang belum menikah dianggap memiliki ketangguhan yang luar biasa di medan perang.
Bagi pihak gereja tindakan Santo Valentine tersebut dianggap benar karena telah melindungi orang yang menjalin cinta, sehingga dia dinobatkan sebagai pahlawan kasih sayang. Sehingga tercatatlah dalam sejarah bahwa setiap tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang bagi umat Kristiani.
Valentine’s day juga warisan budaya Romawi kuno, yaitu upacara pemujaan dan penyembahan kepada dua Dewa besar, Lepacrus (dewa kesuburan) dan Dewa faunus (dewa alam semesta). Upacara tersebut dirayakan tepatnya pada tanggal 15 Februari, masa kekuasaan Kaisar Kontatine (280-337M). Dalam upacara tersebut, dia memberikan kesempatan kepada para remaja wanita untuk menyampaikan pesan cintanya kepada pria pujaannya. Kemudian para remaja pria akan menerima pesan cinta tersebut. Mereka berpasang-pasangan, bernyanyi bersama, berdansa dan biasanya diakhiri dengan perbuatan amoral.

Namun pada abad ke-5 M, tepatnya tahun 494 M, oleh Paus Glasium I, upacara penyucian ini kemudian ditetapkan sebagai Peringantan Hari Kasih Sayang (Valentine’s Day). Tanggal peringatanpun diubah menjadi setiap tanggal 14 Februari, yaitu tanggal dihukumnya pendeta Santo Valentine (Sumber: Republika.com, 2012).
Semua perbedaan pendapat mengenai sejarah valentine’s day semuanya bukan berasal dari Islam. Barat sudah kian pintar mencekoki generasi muda Islam dengan berbagai tipu muslihatnya. Mereka tidak lagi menggunakan perang fisik tapi sudah ke ranah perang pemikiran. Seperti melalui perayaan valentine’s day yang melenakan generasi muda dengan hal yang sia-sia bahkan maksiat. Membuat mereka secara tidak sadar ikut tergerus dalam permainan mereka dan akhirnya sedikit demi sedikit menjadi bagian dari mereka. Padahal Rasulullah SAW sudah memeringatkan bahwa “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (sempit sekalipun) kalian akan mengikutinya. ‘Kami (para sahabat) bertanya ‘apakah yang diikiuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?’ Beliau menjawab ‘lantas siapa lagi?’ ” (HR. Muslim No. 2669).
Lebih ironis lagi jika melihat pemandangan para remaja Islam yang telah mengetahui bahwa budaya valentine’s day adalah budaya Barat yang mengandung nilai-nilai ke-Kristenan, masih saja ikut-ikutan dengan alasan untuk senang-senang saja. Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.(HR. Ahmad dan Abu Dawud). Secara tidak langsung, berarti dengan mengikuti perayaan valentine’s day telah mengakui ideologi yang dianut oleh mereka. Na’udzubillah.
Kedua hadis di atas seharusnya sudah lebih dari cukup agar umat muslim tidak lagi ikut nimbrung dalam perayaan valentine’s day. Apalagi hanya sekedar ikut-ikutan tanpa mencari tahu terlebih dahulu asal muasal perayaan tersebut, atau dengan berkelit sebagai bentuk toleransi. Bukan berarti Islam tidak toleransi, toleransi tidak berarti mengorbankan akidah, ada batas-batas yang harus tetap dijaga, dalam Islam toleransi bukanlah mengambil bagian pada perayaan agama lain tapi sebatas membiarkannya.
 Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’: 36 yang artinya “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, seumuanya itu akan dimintai pertanggungwaban”.
Perayaan valentine’s day biasanya diisi dengan tukar kado, coklat, atau sekedar setangkai bunga mawar yang kemudian akan layu, akhirnya sampai tukar menukar harga diri, pesta seks bebas dimana-mana. Jika masih berkilah bahwa hal-hal amoral hanya dilakukan pada masa Romawi kuno saat awal mula perayaan ini muncul, bisa dilihat fakta yang terjadi, diantaranya “Merayakan malam valentine’s day di Motel, puluhan pasangan mesum terjaring razia, bahkan 4-5 pasangan dalam KTP nya masih berstatus pelajar” , “Jelang valentine, penjualan kondom di Bali  meningkat” (Sumber: Tribunnews.com, 2015). “Pada valentine’s day penjualan kondom di Medan meningkat 100%”, “Hari valentine, ratusan pasangan mesum terjaring razia di Surabaya” (Sumber: Okezon.com, 2015).
Bisa dibilang seharusnya bukan kasih sayang yang di angkat pada perayaan valentine’s day, tapi cinta yang berbalut nafsu, racun yang berbalut madu. Kasih sayang merupakan naluri yang diberikan Allah SWT kepada setiap makhluk-Nya tanpa terkecuali. Saling menyayangi tidak mesti hanya pada waktu tertentu, tetapi bisa dilakukan setiap saat. Seperti halnya kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya yang selalu mengalir tidak mengenal waktu.
Rasulullah SAW bersabda “Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya seperti apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dari hadis ini tersirat bahwa saling mencintai dan saling menyayangi sesama adalah hal yang penting dalam Islam yang tidak harus dirayakan pada waktu tertentu. Berkasih sayang bisa dilakukan setiap saat, tanpa perlu momen satu tahun sekali yang bahkan bukan berasal dari Islam.
Mengikuti perayaan valentine’s day ini saja moral generasi muda muslim sudah dicubak-cabik habis-habisan. Orang-orang kafir adalah penipu ulung yang mampu memanipulasi racun dengan balutan madu. Racun valentine’s day dibungkus dengan madu atas nama cinta. Padahal cinta yang ditawarkan hanyalah nafsu. Saat pemuda yang menjadi tonggak estafet kemajuan ummat mulai terlena dengan segala kenikmatan duniawi yang mereka tawarkan. Apalagi sampai rela menggadaikan cinta mereka dengan jalan keharaman. Maka itu adalah gerbang kehancuran Islam.
Oleh karena itu, sebelum nasi terlanjur menjadi bubur, sudah seharusnya kita saling bahu membahu menasehati dalam kebaikan kepada sesama muslim, khususnya generasi muda, untuk tidak ikut merayakan valentine’s day. Mari sama-sama memahamkan mereka yang belum paham bahwa bentuk toleransi Islam hanyalah sebatas membiarkan merayakan tanpa mengganggu aktifitas mereka. Itu sudah lebih dari cukup.
Sudah tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tetap mengikuti perayaan valentine’s day ataupun perayaan lain yang bukan berasal dari Islam. Selamatkan generasi Islam dari tasyabuh (menyerupai orang-orang kafir), dengan mengajak mereka mengkaji terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, sehingga mampu memilah dan memilih mana yang harus diikuti dan tidak. Mari berjalan beriringan meraih Ridla-Nya, menuju Jannah-Nya. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar