Senin, 18 Mei 2015

Perbedaan Akar Dikotil dan Monokotil


STRUKTUR ANATOMI
PERBEDAAN AKAR DIKOTIL DAN MONOKOTIL
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Anatomi Tumbuhan 
Jurusan: Tadris IPA-Biologi D/2
Dosen Pengampu: Novianti Muspiroh, M.P.




Kelompok 3
1.         Cindy Rantika Devi
2.         Iis Ismatul Muhibah
3.         Suci Anadila Nurkaromah



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
2015





KATA PENGANTAR


                     Segala puji hanya bagi Allah SWT, atas berkat rahmat dan hidayah-Nya penyusun mampu menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Anatomi Tumbuhan. Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Ketika menyusun makalah ini penyusun mengalami beberapa tantangan dan hambatan. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak yang terkait, semuanya dapat diatasi dengan baik. Oleh karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih kepada Ibu Novianti Muspiroh, M.P. yang telah membimbing penyusun dalam pembelajaran, juga kepada semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini tepat waktu.
                     Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik agar menjadi acuan serta bahan koreksi bagi makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya untuk semua pembaca.





Cirebon, 01 April  2015


                           Penyusun



BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Akar merupakan bagian di bawah tanah dari tanaman, yang memiliki peran penting dalam kehidupan tanaman seperti menyerap nutrisi, penahan ke tanah atau permukaan tanaman lain (yaitu epifit) dan penyimpanan makanan adalah beberapa fungsi utama dari akar.
Struktur anatomi akar adalah struktur dalam dari organ akar tumbuhan. Struktur anatomi akar lebih sederhana daripada batang dan biasanya lebih seragam, hal ini berkaitan dengan kurang bervariasinya lingkungan dalam tanah daripada variasi lingkungan aerial (udara).
Akar pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu akar dikotil dan akar monokotil. Secara sederhana untuk dapat membedakannya secara anatomi adalah jika akar monokotil hanya mengalami pertumbuhan primer sedangkan pada akar dikotil mengalami dua fase pertumbuhan yakni pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Sehingga, pada akar monokotil tidak memiliki kambium sedangkan pada akar dikotil memiliki kambium.
Sering terjadi kekeliruan atau ketidaktahuan mengenai perbedaan sruktur akar dikotil dan akar monokotil terebih secara struktur anatominya. Oleh karena itu, pada makalah yang berjudul “Struktur Anatomi Perbedaan Akar Dikotil dan Akar Monokotil” ini akan dibahas mengenai struktur anatomi perbedaan akar dikotil dan monokotil ditambah dengan pembuatan alat peraga yang dapat memudahkan pembaca dalam memahaminya.
B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.        Bagaimana struktur anatomi akar dikotil?
2.        Bagaimana struktur anatomi akar monokotil?
3.        Bagaimana perbedaan struktur anatomi akar dikotil dan monokotil?
4.        Bagaimana cara membuat alat peraga struktur anatomi perbedaan akar dikotil dan akar monokotil?

C.           Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui struktur anatomi akar dikotil.
2.      Mengetahui struktur anatomi akar monokotil.
3.      Mengetahui perbedaan struktur anatomi akar dikotil dan monokotil.
4.      Mengetahui cara membuat alat peraga struktur anatomi perbedaan akar dikotil dan akar monokotil.

BAB II
PEMBAHASAN


A.           Karakteristik Anatomi Akar
Akar adalah salah salah satu struktur yang signifikan dari sporofit pada tanaman vaskular. Ini adalah bagian di bawah tanah dari tanaman, yang memiliki peran penting dalam kehidupan tanaman. Menyerap nutrisi, penahan ke tanah atau permukaan tanaman lain (yaitu epifit), penyimpanan makanan merupakan beberapa fungsi utama dari akar. Akar yang melekat pada batang melalui daerah khusus yang disebut hipokotil.
Akar memiliki dua fase pertumbuhan, yaitu pertumbuhan primer dan sekunder. Kedua jenis akar umumnya memiliki jaringan vaskular, Perisikel  (perikambium), endodermis dan korteks dari pusat ke luar dari masing-masing akar. Akar memiliki wilayah khas seperti pematangan, perpanjangan, wilayah pembelahan sel dan tudung akar.
Struktur anatomi akar adalah struktur dalam dari organ akar tumbuhan. Struktur anatomi akar lebih sederhana daripada batang dan biasanya lebih seragam, hal ini berkaitan dengan kurang bervariasinya lingkungan dalam tanah daripada variasi lingkungan aerial (udara).[1]
Karakteristik akar secara umum adalah akar cenderung tumbuh ke bawah atau ke samping daripada ke atas, tidak ada klorofil pada akar, tidak memiliki daun-daun, memiliki tudung akar pada ujungnya, akar bercabang dan berasal dari struktur endogenik (struktur dari dalam tubuh tumbuhan), posisi xilem dan floem berada pada radial yang berbeda, memiliki rambut akar pada daerah dekat apeks akar. Secara rinci, karakteristik anatomi akar  adalah sebagai berikut:
1.      Tudung akar
Tudung akar terdapat di ujung akar dan melindungi promeristem akar serta membantu penembusan tanah oleh akar. Tudung akar terdiri dari sel hidup yang sering mengandung pati. Sel kadang-kadang tersusun dalam deretan radial yang berasal dari pemula tudung akar. Pada banyak tumbuhan, sel sentral di tudung akar membentuk struktur yang lebih jelas dan tetap yang disebut kolumela.
2.      Epidermis
Epidermis akar atau dikenal sebagai epiblem. Epidermis akar terdiri atas satu lapis sel yang tersusun rapat, umumnya tidak berkutikula. Pada daerah dekat ujung akar, sel-sel epidermis ini termodifikasi menjadi rambut akar. Rambut akar berfungsi memperluas bidang penyerapan.
Sebagian besar akar, rambut akar berkembang dari sel-sel epidermal di dekat meristem apeks akar, rambut akar dibentuk dari sel-sel khusus yang berbeda ukuran dan metabolismenya dari sel epidermis lain yang disebut trikoblas. Pada akar aerial epifit tertentu, memiliki epidermis ganda yang disebut velamen. Fungsi velamen untuk melindungi akar dan mencegah hilangnya air melalui akar.
3.      Korteks
Korteks merupakan daerah antara epidermis dengan silinder pusat. Korteks terdiri atas sel-sel parenkim yang berdinding tipis dan tersusun melingkar. Fungsi korteks adalah sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Sebagian akar sel-sel korteks tersusun teratur, secara radial dan konsentris. Pada korteks terdapat ruang antar sel, terutama pada tumbuhan air, yang membentuk aerenkim (tempat penyimpanan udara).
Sel-sel korteks sering mengandung tepung dan terkadang kristal. Sklerenkim lebih banyak pada akar monokotil daripada akar dikotil. Lapisan terluar akar di bawah epidermis ada yang mengalami diferensiasi menjadi eksodermis, dengan sel-sel yang mengalami suberisasi. Lapisan terdalam terdiferensiasi menjadi endodermis.
4.      Endodermis
Lapisan endodermis akar terletak di sebelah dalam korteks, yaitu berupa sebaris sel yang tersusun rapat tanpa ruang antar sel. Dinding sel sel endodermis mengalami penebalan gabus sehingga tidak dapat ditembus oleh air. Penebalan berupa rangkaian berbentuk pita (pita kaspari). Endodermis terdiri atas selapis sel yang berbeda struktur dan fisiologinya dengan sel-sel lainnya. Endodermis berperan dalam mengatur lalu lintas zat ke dalam pembuluh akar.
Endodermis merupakan lapisan pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Berdasarkan perkembangan dinding selnya, endodermid dapatdibedakan menjadi: endodermis Primer yang mengalami penebalan berupa titik-titik kaspari dari suberin dan kutin, endodermis sekunder, apabila penebalan berupa pita kaspari dai zat lignin dan endodermis tersier apabila penebalan memebentuk huruf U sehingga air tidak dapat tembus ke silinder pusat, yang mengandung lapisan suberin dan selulose pada dinding radialdan tangensial dalam. Di antara sel-sel endodermis terdapat  beberapa sel yang tidak mengalami penebalan dinding, yaitu sel-sel yang terletak berhadapan dengan proroxilem. Sel-sel ini disebut sel peresap atau sel pelalu.
5.      Eksodermis
Sejumlah besar tumbuhan, dinding sel pada lapisan sel terluar korteks akan membentuk gabus, sehingga terjadi jaringan pelindung baru, yakni eksodermis yang akan menggantikan epidermis. Struktur dan sifat sitokimiawi sel eksodermis mirip sel endodermis. Dinding primer dilapisi oleh suberin. Lignin juga dapat ditemukan. Sel eksodermis mengandung protoplas hidup. Ketebalan eksodermis beragam, dari hanya satu lapis hingga beberapa lais sel.[2]
6.      Perisikel
Silinder pembuluh terdiri dari jaringan pembuluh dengan satu atau beberapa lapisan sel di luarnya yaitu perisikel. Jika di bagian tengah tidak di tempati jaringan pembuluh, maka bagian itu diisi oleh parenkim empulur. Di bagian dalam, perisikel langsung berbatasan dengan protofloem dan protoxilem. Perisikel dapat  mempertahankan sifat meristematiknya. Di dalamya terbentuk akar lateral, felogen dan sebagian dari kambium pembuluh.
Perisikel pada umumnya di sebelah dalam endodermis pada bagian tepi berkas vaskuler. Perisikel memiliki kapasitas meristematis, sering disebut perikambium.
7.      Berkas Vaskuler
Berkas vaskuler pada akar tersusun radial. Xilem dan floem tidak pada radial yang sama, xilem bersifat eksarch, protoxilem di sebelah luar metaxilem.  Jaringan pembuluh angkut, floem, dan xilem disusun secara bergantian seperti cincin.[3]
Sistem berkas pengangkut pada akar biasanya tersusun oleh jari-jari xilem yang jumlahnya bervariasi dan berselang-seling dengan floem. Pada akar, xilem dan floem tiak terletak pada radial yang sama. Xilem mungkin berbentuk sumbu sentral ataupun bagian tengah terdapat didekatnya sel-sel parenkim ataupun sklerenkim. Akar dapat terdiri dari 1, 2, 3, 4, 5 atau banyak jari-jari xilem. Secaraa berurutan disebut monarch, diarch, triach, tetrach, pentarch dan poliarch.[4]
B.            Struktur Anatomi Akar Dikotil
Akar dikotil memiliki dua fase pertumbuhan yaitu fase pertumbuhan primer dan fase pertumbuhan sekunder. Ketika benih tumbuh, akar radikal (calon akar) menjadi akar tunggang yang dikombinasikan dengan akar lateral. Epidermis, endodermis dan korteks juga ada dalam akar dikotil, yang memiliki fungsi dan struktur yang sama. Namun, xilem dan floem dipisahkan oleh parenkim penghubung, yang kemudian menjadi jaringan pembuluh angkut. Empulur berkurang atau terkadang tidak ada dalam akar dikotil. Dari sel-sel perisikel dan jaringan penghubung, kambium gabus dan kambium vaskular berasal dari fase pertumbuhan sekunder akar dikotil.
Kambium vaskular timbul antara xilem dan floem, dan membentuk sel-sel di dalam dan di luar dari kambium. Sel yang tumbuh dalam kambium membentuk xilem sekunder dan sel terbentuk di luar floem sekunder berupa tanaman yang meningkatkan ketebalan akar. Dengan tekanan itu, gabus kambium membentuk periderm. Pembentukan periderm mengikuti aktivitas kambium pembuluh dan biasanya mulai dibentuk pertama kali dalam perisikel. Pembentukkan floem di tempat itu mengakibatkan korteks terdorong ke luar dan akhirnya rusak serta tanggal bersama dengan epidermis dan endodermis. Periderm yang telah dibentuk tidak akan bertahan lama karena volume dari sel baru yang ada di sebelah dalam bertambah besar dan akhirnya periderm baru terbentuk di bawahnya. Hal itu dapat berlangsung berulang kali hingga mebentuk ritidom.
Kambium gabus (felogen) terdapat pada permukaan akar yang pecah akibat pertumbuhan sekunder. Kambium gabus ke arah luar membentuk sel gabus (felem) dan ke arah dalam membentuk feloderm. Epiblema akar dikotil bersifat berlapis tunggal, yang terdiri dari komponen hidup tubular. Kutikula tidak ada pada epidermis. Rambut akar dapat ditemukan pada lapisan luar sel eksodermis. Korteks akar monokotil seragam dan terdiri dari lapisan sel parenkim berdinding tipis dengan ruang antar mencolok. Endodermis adalah lapisan terdalam dari korteks yang benar-benar mengelilingi stele.
Dinding sel endodermis melintang dan radial mengandung lignin dan suberin, disebut pita kaspari, yang membuat sel-sel ini unik dari sel-sel akar lainya. Pita kaspari mengontrol pergerakan material dari korteks ke stele. Stele dianggap sebagai jaringan dalam endodermis. Ini termasuk perisikel, bundel vaskuler dan empulur. Perisikel adalah titik yang berasal dari akar lateral dan terdiri dari sel-sel parenkim berdinding tebal. Ikatan pembuluh radial, dan mengandung jaringan xilem dan floem. Empulur biasanya kecil, atau tidak ada dalam akar dikotil.[5]
Karakteristik anatomi akar dikotil adalah sebagai berikut:
1.      Berkas xilem beragam antara 2-6 (diarch—heksarch).
2.       Perisikel selain menghasilkan akar lateral juga merisetem sekunder.
3.      Memiliki kambium, terjadi pertumbuhan sekunder.[6]
C.           Struktur Anatomi Akar Monokotil
Akar monokotil adalah akar adventif seperti rambut, yang tidak memiliki akar tunggang. Akar radikal dari monokotil digantikan oleh akar adventif pada tahap awal. Akar monokotil memiliki empulur di pusat. Dalam monokotil, pertumbuhan sekunder tidak ada, membuat tanaman muda dan tua sama. Akar memiliki tiga daerah yang berbeda yaitu, epidermis, korteks dan bundel vaskuler.
Epiblema kurang lebih mirip dengan akar dikotil. Korteks monokotil lebih kecil dan memiliki karakteristik pita kaspari pada epidermis seperti pada epidermis dikotil. Sel endodermal tertentu yang disebut ‘sel bagian’ digunakan untuk mentransfer air dan garam terlarut dari korteks langsung ke xilem. Seperti pada akar dikotil, stele dari monokotil terdiri dari Perisikel, ikatan pembuluh dan empulur. Tidak seperti pada akar dikotil, akar monokotil telah mengembangkan empulur dengan baik.[7]
Karakteristik anatomi akar monokotil adalah sebgai beikut:
1.    Kelompok xilem banyak, poliarch, biasanya bervariasi anatara 11-20.
2.    Perisikel hanya menghasilkan akar lateral.
3.    Tidak memiliki kambium, tidak ada pertumbuhan sekunder.[8]
D.           Struktur Anatomi Perbedaan Akar Dikotil dengan Monokotil
(Penampang Strutur Anatomi Perbedaan Akar dikotil dan Monokotil)
Pemaparan karakteristik anatomi akar dikotil dan monokotil di atas, dapat diketahui struktur anatomi perbedaan akar dikotil dan monokotil[9] adalah sebagai berikut:
NO
Akar Dikotil
Akar Monokotil
1.
Korteks yang lebih tipis.
Korteks Lebih tebal.
2.
Memiliki akar tunggang dengan akar lateral.
Memiliki sistem akar adventif, ketiadaan akar tunggang.
3.
Memiliki dua fase pertumbuhan yaitu pertumbuhan primer dan sekunder.
Tidak memiliki pertumbuhan sekunder.
4.
Pertumbuhan sekunder memiliki kambium vaskular dan kambium gabus, yang berasal dari sel-sel perisikel dan jaringan penghubung.
Tidak ada pertumbuhan sekunder.
5.
Memiliki empulur sangat kecil dibandingkan dengan empulur monokotil atau tidak memiliki empulur.
Memiliki empulur yang signifikan di tengah.
6.
Pertumbuhan kambium vaskular menyebabkan ketebalan meningkat pada akar.
Dimensi lateral akar monokotil tidak meningkat.
7.
Batas ujung akar dan kaliptra tidak jelas.
Batas ujung akar dan kaliptra jelas.
8.
Perisikel terdiri dari 1 lapis sel.
Perisikel terdiri dari beberapa lapis sel.
9.
Mempunyai kambium.
Tidak ada kambium.
10.
Jumlah lengan xilem antara 2-6.
Jumlah lengan protoxilem banyak (lebih dari 12).
11.
Letak xilem di dalam dan floem di luar (dengan kambium sebagai pembatas).
Letak xilem dan floem berselang-seling.
12.
Asal akar adalah dari akar lembaga (radix). Pada akar dikotil, akar lembaga terus tumbuh sehingga membentuk akar tunggang.
Asal akar adalah dari akar lembaga (radix). Pada Monokotil, akar lembaga mati kemudian pada pangkal batang akan tumbuh akar-akar yang memiliki ukuran hampir sama sehingga membentuk akar serabut.
E.            Pembuatan Alat Peraga Struktur Anatomi Perbedaan Akar Dikotil dengan Monokotil
Alat peraga merupakan sebuah sarana untuk mempermudah memahami sebuah materi yang diajarkan. Berikut akan dipaparkan cara membuat alat peraga struktur anatomi perbedaan akar monokotil dan dikotil, sebagai berikut:
1.      Alat dan bahan
a.       Alat-alat
1)      Gunting
2)      Cutter
3)      Spidol
4)      Lem
5)      Double tip
6)      Mistar
7)      Nampan
b.      Bahan-bahan
1)      Kain planel
2)      Sterofoam
3)      Kertas lauco
2.      Langkah kerja
a.       Diameter lingkaran Sterofoam ukur menggunakan nampan bulat.
b.      Sterofoam yang telah diukur dipotong menggunakan cutter.
c.       Seluruh bagian sterofoam dibungkus dengan kertas lauco.
d.      Gambar pola pada kain planel, kemudian dipotong sesuai pola.
e.       Kain planel yang telah dipotong sesuai pola kemuadian ditempel pada sterofoam.
f.       Kemudian diberikan keterangan sesuai dengan gambar.

                                        



BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
1.         Karakteristik anatomi akar adalah tudung akar, epidermis, eksodermis, endodermis, perisikel, korteks dan berkas pengangkut.
2.         Karakteristik anatomi akar dikotil adalah sebagai berikut berkas xilem beragam antara 2-6 (diarch—heksarch), perisikel selain menghasilkan akar lateral juga merisetem sekunder dan memiliki kambium sehingga terjadi pertumbuhan sekunder.
3.         Karakteristik anatomi akar monokotil adalah sebgai beikut: kelompok xilem banyak (poliarch) biasanya bervariasi anatara 11-20, perisikel hanya menghasilkan akar lateral, dan tidak memiliki kambium sehingga tidak ada pertumbuhan sekunder.
4.         Struktur anatomi perbedaan antara akar dikotil dengan monokotil adalah jika akar dikotil mengalami pertumbuhan primer dan sekunder sehingga memiliki kambium sedangkan akar monokotil hanya mengalami pertumbuhan primer sehingga tidak memiliki kambium.
5.         Langkah kerja membuat alat peraga struktur anatomi perbedaan akar monokotil dan dikotil, sebagai berikut: diameter lingkaran Sterofoam ukur menggunakan nampan bulat, Sterofoam yang telah diukur dipotong menggunakan cutter, seluruh bagian sterofoam dibungkus dengan kertas lauco, gambar pola pada kain planel, kemudian dipotong sesuai pola, kain flanel yang telah dipotong sesuai pola kemuadian ditempel pada sterofoam, dan kemudian diberikan keterangan sesuai dengan gambar.
B.                Saran
            Penyusun berharap dengan dibuatnya makalah dan alat peraga struktur anatomi perbedaan akar dikotil dan monokotil ini pemabaca pada umumnya dan khususnya untuk penyusun dapat lebih memahami serta tidak ada lagi kekelriuan mengenai perbedaan struktur anatomi akar dikotil dan monokotil.

DAFTAR PUSTAKA
Bitcoin, Market. Struktur Akar Melintang Monokotil dan Dikotilhttp://rahmatps.blogspot.com. Diakses 29 Maret 2015 pukul 21.04 WIB.
Dianti, Sri. 2014.  Perbedaan Akar Dikotil dan Monokotil. http://www.sridianti.com. Diakses 29 Maret 2015 pukul 21.01 WIB.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Isma, Budi. Perbedaan Antara Akar Monokotil dan Dikotil. http://budisma.net. Diakses 29 Maret 2015 pukul 21.06 WIB.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Nugroho, Purnomo, dkk., Hartanto. 2006. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya.

 


[1] Sri Dianti, Perbedaan Akar Dikotil dan Monokotil,  http://www.sridianti.com (diakses 29 Maret 2015).

[2] Sri Mulyani, Anatomi Tumbuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hal. 192.
[3] Estiti B. Hidayat, Anatomi Tumbuhan Berbiji, (Bandung: ITB, 1995), hal.
[4] Hartanto Nugroho, Purnomo, dkk., Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, (Jakarta: Penebar Swadaya, 2006), hal. 112.
[5] Sri Dianti, Stuktur Akar Dikotil,  http://www.sridianti.com (diakses 29 Maret 2015).
[6] Market Bitcoin, Struktur Akar Melintang Monokotil dan Dikotilhttp://rahmatps.blogspot.com, (diakses 29 Maret 2015).

[7] Sri Dianti, Stuktur Akar Monokotil,  http://www.sridianti.com (diakses 29 Maret 2015).
[8] Market Bitcoin, Struktur Akar Melintang Monokotil dan Dikotilhttp://rahmatps.blogspot.com, (diakses 29 Maret 2015).
[9] Budi Isma, Perbedaan Antara Akar Monokotil dan Dikotil, http://budisma.net (diakses 29 Maret 2015).

Tidak ada komentar :

Posting Komentar