Sabtu, 23 Mei 2015

Sepenggal Cerita Kita


Kita adalah jiwa-jiwa yang dipersatukan Allah. Percayakah? Jika tidak, jawabannya ada di dalam hatimu. Kita tidak boleh hanya mengutamakan logika dibanding perasaan. Selaraskan keduanya, kau akan temukan maksud dari apa yang ku katakan. Entah awalnya hanya pelampiasan sebuah harapan atau kepasrahan atas segala hal yang belum sesuai dengan keinginan, hingga kita dipertemukan di dalam kotak yang bersekat-sekat ini sekarang.
Seseorang di sana pernah berkata padaku. Kebersamaan yang menyatukan kita di sini hanyalah kebersamaan semu. Hanya kamuflase. Mungkin hanya sekedar dibuat-buat untuk peneman rutinitas. Seseorang itu kembali mengingatkan, jangan kau samakan keadaan yang akan dihadapi sekarang dengan masa-masa dahulu yang telah kau lalui. Individualitas akan kental terasa. Kepedulian hanya sekedar hormat bertegur sapa. Katanya.
Memang sudah mulai ku buktikan. Silih berganti kisah-kisah terjadi setelah ucapan itu berlalu melalui detik demi detik waktu. Aku tak begitu peduli meski mereka berkata seperti itu. Meski hal-hal tampak di depan mata. Bolehkah aku mengenyampingkan pandanganku dari pendapatnya?. Ruang-ruang kotak itu mungkin memang mengikat kita dalam sebuah kebersamaan yang semu. Apakah ruang-ruang di hati kita juga demikian?
Apa yang sampaikan dari hati. Insya Allah akan sampai pada hati. Aku sendiri tak dapat menjamin pembicaraan ini berasal dari hati. Kalian  mungkin bisa menilainya sendiri. Izinkanlah Aku bercerita sahabat, kau boleh mengacuhkannya, tapi jangan kau acuhkan kenangan-kenangan itu, ku yakin kau masih punya perasaan.
Mungkin kalian juga merasakan kenyamanan itu ada setiap tangan kita sempat berjabat. Saat kita bersua memecah kepenatan selepas rutinitas yang mendesak. Siapapun yang merasa tak suka. Maafkan, Aku hanya berhipotesa. Ku harap ada rindu yang kalian selipkan ketika ada kenyamanan lain yang kalian temukan.
Akan terasa sulit rasanya bagiku melepas genggaman yang telah terlanjur erat ini. Meski aku harusnya telah banyak belajar dari kejadian sebelumnya. Teringat salah satu kisah itu, Aku harus melepas sahabatku pergi di saat Aku masih harus berjuang.  Dalam sebuah persahabatan, perpisahan memanglah menyakitkan. Tak dapat digambarkan rasanya. Sakit memang, tapi apa mau dikata. Apakah arti pertemuan tanpa perpisahan. Saat tangan mampu menyambut hangat, maka harus pula bisa melepas kembali dengan ikhlas.
Berarti atau tidak pertemuan kita yang bisa dibilang singkat ini. Aku akan berterima kasih, mengahturkan syukur ke Hadirat Allah yang Maha Kuasa. Pernah hadirkan kalian untuk berada di sekelilingku. Sosok-Sosok yang hebat dengan cara kalian sendiri. Yang bisa menerimaku, meski mungkin terpaksa haha. Terima kasih setidaknya untuk dua semester ini sahabat. Insya Allah, I’ll never forget it.
Kadang terselip kata yang meyayat hati dan menusuk kalbu. Mungkin lisan tak sengaja melukai, anggota badan tak sengaja menoreh perih. Manusia memang tiada yang sempurna kan Sahabat?. Pernahkan pasti protes ke sana ke mari pada yang memiliki tanggungjawab lebih, padahal kita sama sekali tidak paham betul duduk perkara perkara yang Ia hadapi, tanpa memerdulikan usaha yang telah dilakukan.
Yang ingin kita tahu adalah keinginan kita terpenuhi saja?, Semoga semuanya sudi kiranya memaafkan. I feel, sekali saja di antara kita harusnya merasakan memikul tanggungjawab yang sama. Bukan untuk saling balas dendam, namun agar lebih menghargai dan berbagi rasa saja :D. Tapi sudah seyogyanya kita saling memaklumi, memaafkan dan mengingatkan bukan?
            Mungkin, esok atau lusa. Apakah kita masih bersama-sama atau tidak. Terpisahkan maut atau terpisahkan jalan hidup yang kita pilih masing-masing atau sekedar terpisahkan sekat ruang kotak karena aturan. Semoga selalu kita ingat bahwa kita pernah bersama, kita pernah ada dalam satu ruangan, kita pernah punya cerita bersama, kita pernah ada sahabat. Kenangan itu abadi jika kau tetap mau mengenangnya. Ana Uhibbukum Fillah J
Jika kau anggap pertemuan kita bukan sekedar kebersamaan yang semu, “Kelak, akan ada masa kita akan bermetamorfosa menjadi Rindu, Sahabat”.

Dari Sahabatmu yang Jauh dari Kesempurnaan
With Love,


Dila

Tidak ada komentar :

Posting Komentar