Sabtu, 20 Juni 2015

Persenyawaan Atom dalam Proses Penciptaan Nabi Adam As.


Persenyawaan Atom dalam Proses Penciptaan
Nabi Adam As.
Oleh: Suci Anadila Nurkaromah
Sumber hukum tertinggi bagi ummat Islam adalah al-Quran. Tidak sekedar berisi aturan keagamaan, al-Quran juga mengandung pokok-pokok sains teknologi maupun sosial humaniora, semua lengkap tertata apik dalam ayat-ayatnya. Diturunkan 14 abad lampau atas tanda cinta Allah terhadap makhluk-Nya. Pedoman hidup yang mencakup dunia hingga akhirat yang keotentikannya hingga akhir zaman telah mendapat jaminan langsung dari-Nya.
            Apa-apa yang terdapat dalam al-Quran bukan sekedar omong kosong yang miskin makna. Justru Al-Quran menjelaskan sesuatu yang bahkan baru pada masa kini bisa dijelaskan. Ketika mengkaji isi al-Quran, kita akan menemukan integrasi yang terlihat jelas antara sains dengan agama Islam ini yang tertera dalam al-Quran. Seperti halnya penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s terdapat dalam beberapa ayat al-Quran yang selaras dengan ilmu pengetahuan, salah satunya terintegrasi dengan cabang ilmu sains yaitu kimia.
            Berabad-abad sebelum manusia mengetahui tentang hal tersebut, bahkan al-Quran telah mengabarkannya terlebih dahulu. Inilah salah satu bukti bahwasannya al-Quran bukanlah karangan manusia tetapi berasal dari kalam Pencipta yakni Allah SWT. Selanjutnya akan dipaparkan beberapa ayat mengenai integrasi penciptaan Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT beserta penjelasannya secara ilmiah dengan ilmu kimia.
Ilmu Kimia mendapatkan perhatian dan dorongan daripada al-Quran untuk dikembangkan. Manusia dan seluruh lingkungan hidupnya terbentuk dari elemen-elemen dan subtansi-subtansi yang tergabung menjadi sebuah ikatan kimia menurut hukum Allah. Manusia sendiri tercipta dari tanah liat kemungkinan melalui sebuah proses kimia interaktif antara berbagai unsur dalam tanah yang bekerja menurut hukum-hukum Allah melalui proses perubahan dan kombinasi tertentu.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembangbiak” (Q.S Al-Rum [30]: 20).
Ayat ini mengundang perhatian kearah proses penciptaan manusia terutama berhubungan dengan telah tentang terjadinya reaksi kimiawi dari subtansi-subtansi yang menjadi bahan baku penciptaannya dan pengaruhnya terhadap perilakunya sebagai makhluk hidup.
Ayat-ayat dalam Al-Qur’an mengajak manusia memikirkan dan merenungkan proses penciptaan yang dilakukan Allah dengan berbagai konteksnya dan mendorong manusia mengadakan eksperimen tentang interaksi antar berbagai subtansi yang berbeda, serta mengadakan studi tentang perubahan-perubahan kimiawi yang memunculkan subtansi baru dan seterusnya.
Bagaimana reaksi kimiawi benda-benda yang tidak bernyawa dapat menghasilkan makhluk hidup yang bernama manusia? Komponen-komponen apa saja yang terdapat dalam tanah menjadi bahan dasar penciptaan manusia? Dan, reaksi dari unsur-unsur apa saja yang menghasilkan makhluk yang mulia itu? Pertanyaan-pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang serupa dengan itu menggerakkan minat para ilmuwan berabad-abad lamanya untuk mengadakan eksperimen-eksperimen yang mencoba mengungkap rahasia bagaimana makhluk hidup terbentuk dari berbagai unsur. Ayat-ayat berikut memberikan inspirasi lebih jauh untuk melakukan penelitian lebih lanjut:
إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
“Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (Q.S Al-An’am [6]: 95)
قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah:”Siapakah yang member rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab:”Allah.” Maka katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (Q.S yunus [10]: 31)
Ayat-ayat seperti itu tentu saja menunjuk pada kemungkinan ditemukannya subtansi yang lebih unggul dan lebih bermanfaat lewat percampuran berbagai unsur, dan bahkan kemungkinan menemukan sebuah bentuk kehidupan yang merupakan hasil interaksi kimiawi dari beberapa komponen yang beranekaragam. Singkatnya, ayat-ayat tersebut jelas-jelas menggugah manusia agar melakukan penelitian lebih jauh dan lebih mendalam mengenai persoalan ini.
Ayat-ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah, umumnya dipahami secara lahiriah. Hal ini itu menimbulkan pendapat bahwa manusia benar-benar dari tanah, dengan asumsi karena Allah berkuasa, maka segala sesuatu dapat terjadi. Ayat-ayat yang menerangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah tidak berarti bahwa semua unsur kimia yang ada dalam tanah ikut mengalami reaksi kimia.
Hal itu seperti pernyataan bahwa tumbuh-tumbuhan bahan makanannya dari tanah, karena tidak semua unsur kimia yang ada dalam tanah ikut diserap oleh tumbuh-tumbuhan, tetapi sebagian saja. Dari sini kita megetahui  petunjuk dimana sebenarnya bahan-bahan pembentuk manusia yaitu ammonia, menthe, dan air terdapat, yaitu pada tanah, untuk kemudian bereaksi kimiawi. Contohnya jika dinyatakan istilah “Lumpur hitam yang diberi bentuk” (mungkin yang dimaksud adalah bahan-bahan yang terdapat pada Lumpur hitam yang kemudian diolah dalam bentuk reaksi kimia).
Al-Qur’an merujuk fenomena-fenomena alamiah yang dapat dijumpai manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ayat-ayat ini boleh jadi telah menarik perhatian manusia untuk mempelajari berbagai elemen dan reaksi kimiawi yang ada di dalamnya:
وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ
“… Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya ada yang meluncur jatuh,…” (Q.S Al-Baqarah [2]: 74)
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ
“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizing Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamanya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur” (Q.S Al-A’raf [7]: 58).
Tubuh manusia 86% terdiri dari 4 unsur dominan, yaitu : Oksigen (65%), Karbon (18%), Hidrogen (10%), Nitrogen (3%). Hal ini, nampaknya bersesuaian dengan berita yang terkandung di dalam ayat-ayat Al Qur’an, sebagaimana terdapat pada Al-Quran menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam unsur/tahapan, yaitu sebagai berikut:


            Pertama: Surat Ar Rahman ayat 14:
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
“Dia (Allah) menjadikan manusia seperti tembikar, (tanah yang dibakar)”. Yang dimaksudkan dengan kata “Shal‑shal” diayat ini ialah:   Tanah yang kering atau setengah kering yakni “Zat pembakar” atau Oksigen.

            Kedua: Pada ayat tersebut disebutkan pula kata“Fakhkhar”, maksudnya adalah  berupa “Zat Arang” atau Carbonium.
            Ketiga: Surat Al Hijr, ayat 28:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa)” .
Kata “Hamaa-in” pada ayat tersebut ialah “Zat Lemas” atau Nitrogenium.

            Keempat: Surat As-Sajadah ayat 7:
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنسَانِ مِن طِينٍ
“Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada tanah”.
Yang dimaksud dengan kata “Thien” (tanah) pada ayat ini ialah “Atom berupa zat air” atau Hidrogenium.

             Kelima: Surat Ash-Shaffaat ayat 11:
فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَم مَّنْ خَلَقْنَا ۚ إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ
“Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada Tanah Liat”.
Yang dimaksud dengan kata “Lazib”  (tanah  liat) di ayat ini ialah “Zat besi” atau ferrum.

             Keenam: Surat Ali Imran ayat 59:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ
“ Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi AllAh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia”.
Yang dimaksud dengan kata “Turab” (tanah) di ayat ini ialah: “Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah” yang dinamai “zat-zat anorganis”.

             Ketujuh: Surat Al Hijr ayat 29:
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Maka setelah Aku (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan ruh‑Ku  kepadanya (Ruh daripada‑Ku)”.
Pada ayat  ini, menerangkan tentang proses terakhir kejadian manusia, yaitu melalui ditiupkannya ruh. Proses yang melibatkan “campur  tangan” Maha   Pencipta  ini, menjadi pembeda antara Kaum Beriman dengan Kaum Atheis. Pihak Atheis menolak, proses munculnya kehidupan yang datangnya dari Allah, sementara mereka sendiri kebingungan untuk menjawab, darimana datangnya asal kehidupan itu.
  Enam ayat Al Qur’an yang telah dipaparkan di atas Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga menjadi manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yang keenam tentang kata Turab (tanah) ialah zat-zat asli yang terdapat di dalam tanah yang dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara Fakhkhar yakni Carbonium (zat arang) dengan “shal-shal” yakni Oksigenium (zat pembakar) dan Hamaa-in yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air). 
Lebih jelasnya adalah persenyawaan antara: Fakhkhar (Carbonium = zat arang) dalam surat Ar Rahman Ayat 14, Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dalam surat Ar‑Rahman ayat 14, Hamaa‑in (Nitrogenium = zat lemas) dalam suratAl-Hijr ayat 28, Thien (Hidrogenium = Zat Air) dalam surat As-Sajadah ayat 7. Kemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan mangaan, yang disebut “laazib” (zat-zat anorganis) dalam surat As Shafaat ayat 11. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut “Turab” (zat‑zat anorganis) dalam quran surat Ali‑Imran ayat 59. 

         Salah satu di antara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah “Zat Kalium”, yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, terutama di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus.   Dengan   berlangsungnya “Proteinisasi”, menjelmakan “proses penggantian” yang disebut “Substitusi”. Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron‑electron cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga “sebab wujud” atau Causa Formatis. 
          Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yang terdiri dari badan, kepala, tangan,  mata, hidung telinga dan seterusnya. 
          Sampai di sinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia atau Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu  Metafisika. Ayat-ayat Al Qur’an tersebut sangat jelas menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berwujud manusia.
   Proses penciptaan awal manusia  yaitu Nabi Adam as. telah dipaparkan dengan jelas yang mampu dijangkau penalaran manusia, juga pembuktian serta integrasinya dengan ilmu kimia. Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwasannya, al-Quran memang mengatakan hal yang sebenarnya bukan sebuah bualan yang tiada artinya. Dari pemaparan ini terdapat banyak sekali hikmah yang dapat kita petik.
Manusia yang berasal dari tanah akan kembali membumi bersama tanah. Menyatu bersama apa yang pada awalnya ia diciptakan. Terwujudlah keseimbangan alam semesta. Dengan segala keapikan yang tersusun rapih ini, tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak percaya terhadap kuasa Allah. Tidak ada lagi alasan untuk menyombongkan diri serta takabur terhadap nikmat Allah. Kita hanya seonggok makhluk Allah yang tercipta atas kehendak Pencipta yakni Allah SWT.

Sumber:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar