Sabtu, 04 Juli 2015

Antara Cinta dan Air Mata

Antara Cinta dan Air Mata
Oleh: Robi’atul Adawiyyah
Hatinya galau bukan main, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia dihadapkan pada dua pilihan yang membingungkan. Bagai mendapat buah simalakama. Marwah seorang perempuan 23 tahun berparas cantik nan lembut, termenung di halaman depan rumahnya, hijabnya menjuntai menyapa ramah tiap mata yang memandangnya. “Neng..” sapaan ramah laki-laki itu membuyarkan lamunannya, suara laki-laki itu sudah sangat lama ia kenal, “mendamaikan” bisik hati Marwah. Laki-laki itu tak lain adalah kekasihnya, Hasan, pria 28 tahun yang tiga hari lalu telah ia terima lamarannnya untuk menjadi istrinya. “Ah mas Hasan mengagetkanku saja..” jawab Marwah. Hasan duduk tak jauh di samping Marwah “pilihan ini memang sulit,.. hufffftttt”, Hasan menghela nafasnya terasa berat, seakan ingin melepas semua beban yang menimpanya, sedangkan Marwah menatap kosong anak-anak kecil yang  tertawa riang memainkan permainan congklak kesukaan mereka. “Andai saja masalahku bisa seperti permainan congklak yang sangat mudah aku mainkan” Marwah teringat saat ia kecil dulu dijuluki Sang Pencongklak Ulung di desanya, namun tawa Hasan membuat kenangan itu buyar “Hahahaha… kau ini bicara apa neng?? tapi, yaaa bisa jadi seperti itu, hidup itu bukan seperti menggenggam biji congklak dan membagikan pada setiap lubang saja, tapi hidup itu seperti bagaimana kita menyiasati permainan congklak itu sendiri, agar kita menjadi pemenang, bukan begitu?”, kata-kata Hasan membuat hati Marwah terasa berat, kelopak matanya tak sanggup lagi membendung air mata yang sejak tadi mendorong mewakili kesedihannya. Teringat kembali, tadi pagi, penyakit ibunya sudah semakin parah, penyakit paru-paru yang sudah lama diderita ibunya, kini benar-benar berada di puncaknya,  membuat ibu Marwah berbaring tak berdaya di atas kasur lusuh mereka.
Ibu Imah, tetangga Marwah datang menjenguk ibu Marwah, “ini harus segera dibawa ke rumah sakit, Marwah..”. Marwah membisu mendengar perkataan itu, dari mana aku mendapatkan uang untuk membayar biaya rumah sakit?, gelisahnya dalam hati, namun melihat ibunya seperti itu, membuat ia terpaku lemas sembari mengusap-usap dahi ibunya yang semakin keriput. Air matanya mengantar setiap doa yang ia panjatkan untuk ibunya. Bangunan reot yang menjadi tempat teduh mereka selama ini, seakan menghakimi kehidupannya, Marwah dan ibunya hanyalah pedagang singkong keliling. Penghasilan mereka tak mencukupi kebutuhan keduanya, bahkan tak jarang keduanya menahan lapar hingga dua atau tiga hari lamanya. Ayah Marwah meninggal 10 tahun yang lalu akibat kecelakaan. Belum lagi sekarang, ibunya sering sakit-sakitan memaksa ia mencari rupiah demi mencari sesuap nasi dan membeli obat-obatan untuk ibunya. Tak kunjung sembuh, tubuh ibu Marwah semakin kurus akibat digerogoti penyakit yang dideritanya.  Tetangga tak banyak membantu, keadaan ekonomi di desa itu memang sangat minim, mayoritas penduduknya hanya menjadi tukang rongsok atau paling banter laki-lakinya menjadi nelayan, sehingga menyulitkan Marwah mencari pinjaman uang, kalaupun bisa, mungkin akan sulit ia membayarnya, sedangkan kerabat sama sekali tak ia miliki, ia hanya memiliki ibunya seorang.
Tak lama, berita sakit parah yang diderita ibu Marwah sampai pada telinga Aldo, bos rongsok yang sombong dan angkuh yang senang membawa wanita panggilan ke rumahnya. Ia langsung mendatangi kediaman Marwah, bukan membantu Marwah ia malah menambah beban Marwah. Aldo besedia membawa ibu Marwah ke Rumah Sakit dan menanggung semua biaya yang dibutuhkan, tapi dengan syarat bahwa Marwah harus menikah dengannya. Bagai mendapat buah simalakama, Marwah tidak tau apa yang harus ia lakukan, seketika ia langsung teringat pada sosok Hasan yang baik, ramah dan  sholeh yang telah memikat hatinya. Tak terasa air mata beruraian di pipi lembut Marwah. Aldo hanya memberi waktu sampai sore ini, sesaat setelah Marwah memberitahu semuanya pada Hasan tentang apa yang terjadi. Sebenarnya, Hasan pun ingin sekali membawa ibu Marwah ke rumah sakit dan membiayai pengobatannya, tapi apalah daya, penghasilannya sebagai tukang becak tak dapat memenuhi keinginannya itu. “Neng, jika Aldo memang menyanggupi biaya pengobatan ibumu, dan… memintamu menjadi pendampingnya, maka… terimalah saja penawarannya itu, dan biar pernikahan kita dibatalkan saja”, penuturan terbata-bata Hasan mendobrak lamunan Marwah. “Hah???menikah dengan Aldo??semua orang pun tau bagaimana sifatnya mas.. TIDAKK.. aku tak mau bersanding dengannya, lebih baik aku mati daripada harus menanggung kepedihan bersama laki-laki bejat itu”, semakin deras air mata Marwah membasahi pipinya. Ingin sekali Hasan memeluk dan mengusap air mata yang terus berurai membasahi pipi Marwah, sekedar hanya ingin menenangkan hati Marwah, namun baginya kesucian Marwahlah yang terpenting, bukan tentang sok suci atau mengerti hukum agama, baginya menghormati kesucian Marwah merupakan salah satu bukti rasa sayangnya terhadap Marwah. Hasan memandangi langit yang mendung saat itu, seakan menambah duka di hati keduanya, dan aku pun benar-benar tak ingin melepasmu, neng… indahnya samudra tak dapat menggantikan sosokmu, dan lagi Aldo, laki-laki itu sungguh tak pantas memilikimu, walau hanya seujung jarimu disentuh olehnya, aku tak rela … gundah di hati Hasan.
Tawa anak-anak yang tengah asyik berlomba memainkan congklak mengalahkan suara isak tangis Marwah. Sayup-sayup terdengar suara ibu Marwah memanggilnya, “uhuk uhuk.. Marwah…”. Marwah berlari memenuhi panggilan sang ibu dan tergesa menyeka air matanya yang sedari tadi tak mau berhenti, sedangkan Hasan hanya menunggu di luar. “iyaa bu..”, Marwah duduk di samping tubuh ibunya yang benar-benar lemah, tangan Marwah menggenggam tangan wanita renta itu, dengan suara serak dan terbatuk-batuk, ibu Marwah berkata “ibu mendengar percakanmu dengan Hasan, uhuk uhuk… menikahlah dengan Hasan, ia laki-laki yang baik dan soleh.. uhuk uhuk… jangan kau pedulikan ibumu ini nak, biarlah ibu menghadap Allah dengan bahagia karena melihatmu bahagia bersama Hasan..uhuk”. Marwah tersentak memandangi mata tulus sang ibu, terlihat begitu banyak kasih sayang darinya untuk Marwah. “Tidak bu, ibu jangan bicara seperti itu, pasti ada cara lain mengobati ibu…” belum sempat Marwah menyelesaikan kata-katanya, genggaman ibu Marwah terlepas mengakhiri kehidupannya, satu titik air mata ibu Marwah dan sebuah senyuman yang tersungging dari bibirnya, mengantar kepergian ruhnya yang dibawa Malaikat Izroil. Marwah terpaku dan berusaha memanggil-manggil ibunya “ibu..ibu..”, namun percuma, tubuh ibunya kini sudah kaku, hati Marwah sesak menyadari bahwa ibunya benar-benar telah tiada, Marwah berteriak sekeras-kerasnya, “ibuuuuu…”, tangisnya membuncah mengagetkan Hasan yang sejak tadi melamun di depan rumah Marwah. Langit seakan benar-benar sendu menjemput ruh wanita tua yang dibalut ketentraman itu, ‘tugasku selesai’, mungkin itu yang akan Marwah dengar dari ibunya, namun yang dapat mendengar hanyalah Sang Maha Mendengar, Sang Maha Indah.
Dua bulan kemudian Hasan menikahi Marwah. Ada kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, walau sebenarnya ia merindukan sosok ibu yang selalu menemaninya. Ia Termenung di kursi pelaminan, tapi rengkuhan tangan seseorang menggengam tangan mungil Marwah, “tak pantas seorang Ratu melamun di singgasananya..” Hasan menasihati. Sosok laki-laki berwajah teduh itu selalu menyejukkan hati Marwah, sekejam apapun dunia ini, bagi Marwah hanyalah sebuah kapas ringan jika bersama Hasan. ‘Allah selalu menyayangiku, Dia telah menempatkanku diantara orang-orang yang istimewa, dunia ini selamanya takkan bisa menebus mereka, orang-orang yang aku sayangi dan selalu menyayangiku, bukan tentang rupiah, tapi ini semua tentang mensyukuri apa yang telah Allah hadiahkan kepada kita, yang mungkin orang lain tidak memilikinya, bahkan melihatnyapun,,, entah… Yaa Robbanaa lakal hamd..’ tegas hati Marwah.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar