Kamis, 16 Juli 2015

Lebaran Sebentar Lagi



Kamis, 29 Ramadhan 1436 H
Ketika ku menulis ini, rintik hujan baru saja mereda. Menyisakan bau khas yang menyejukkan pagi Ramadhan yang penuh berkah. Sepertinya alam pun sedang ikut berkata melalui tasbih-tasbih rinai hujan, sama-sama bersuka cita. Karena tinggal menghitung jam Ramadhan akan berakhir. Suara takbir sebentar lagi akan berkumandang mengiringi merangkaknya hilal 1 Syawal.
Deru pilu menyelusup ke dalam sanubari ummat Muslim, akan segera berlalu bulan yang penuh berkah, Sayyidul syuhuur, bulan di mana pintu Neraka tertutup sedangkan pintu Surga terbuka bagi mereka yang beriman dan bertaqwa, di mana setiap amalan akan dilipat gandakan sampai tak terhingga. Rindu pada Ramadhan bahkan sebelum Ia berlalu, karena tak ada jaminan akan kembali menyapa.
Tapi, hati kami pun berbahagia setelah satu bulan kami berpuasa hari kemenangan itu akan segera tiba. Dengan penuh harapan, diri kami akan kembali kepada fitrahnya. Selayaknya bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim seorang Ibu. Suci, Bersih. Saat kami dapat merayakannya bersama seluruh ummat Muslim di dunia. Saling bermaafan, tangan saling berjabat, yang setiap jabatannya meluruhkan dosa-dosa. Atas keikhlasan memaafkan dan dimanfaakan.
Telah demikian terasa aroma Lebaran. Yap, Lebaran adalah nama lain dari perayaan hari raya Idul fitri di negeriku, Indonesia. Banyak yang bersiap dengan hal ihwal serba baru juga sibuk menyiapkan penganan untuk hari raya. Oh ya, ada juga yang masih sibuk berkemas lalu pergi mengunjungi sanak keluarga yang telah lama nun jauh dari pandangan mata, yaa meski lebaran tinggal menunggu sang mentari kembali ke peraduan, tiada menyurutkan semangat mereka untuk melebur rindu dengan orang-orang tercinta. Masya Allah, 1 Syawal merupakan momentum yang sangat di sakralkan di negeriku ini, ya karena kamipun adalah sebuah negeri dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia.
Hmm, dari banyak tradisi itu, terkadang ada saja esensi sesungguhnya yang banyak kita lalaikan. Seperti, Tradisi menjelang Idul Fitri yang khas banget bikin kemacetan yang mengular panjang hingga puluhan kilometer di negeriku ini, yap Mudik. Mereka yang rela bertempur dengan jarak, bersabar dengan macet yang kadang sangat memakan waktu. Semua seakan tak di pedulikan saat terbayang senyum mereka orang-orang terkasih di kampung halaman, berharap akan segera melebur Rindu, menebus waktu dan jarak yang telah tercipta.
Tujuannya sih bagus, pengen silaturahmi, tapi kadang kita lupa, diperjalanan melalaikan shalat, padahal sudah ada Rukhshoh bagi yang sedang safar yaitu shalatnya bisa di jama’ atau qashar, jika tidak dimungkinkan untuk menepi dan shalat di masjid, dalam kendaraanpun tak apa. Ditambah lagi, Terlalu asyik pengen mudik, sampai berasa jalanan milik sendiri saja, peraturan lalu lintas banyak yang tak dihiraukan. Gak lucu kan, kalau ujung-ujungnya malah harus mudik ke Rumah Sakit. Hihh, Na’udzubillah. Kalo kata Pak Polisi mah “Jadilah pelopor keselamatan lalu lintas”, kituu. Insya Allah, kalo pandai-pandai mengambil hikmah, agenda Mudik ini dapat menjadikan Taqarub Ilallah, Aamiin.
Terus terus, iyakan kalo Lebaran itu identik sama semua hal yang baru, semua dipersiapkan sedemikian rupa. Dari ujung kepala sampai ujung kaki semuanya baru. Pokoknya semua harus baru, haha. Penganan yang khas banget, seperti opor ayam sama ketupat,  menu pokok di banyak meja makan pas hari Raya. Yaa, boleh-boleh aja sih kaya gitu, asal jangan berlebih-lebihan, Allah kan gak suka yang berlebih-lebihan. Oh ya, jangan sampai gara-gara sibuk buat nyiapin Lebaran lupa Zakat Fitrah ya, inikan wajib hukumnya. Berbagi kebahagiaan pada sesama. Mantep dah..
Intinya sih, sangat boleh kita memersiapkan segala yang terbaik untuk menyambut hari raya Idul fitri. Eits, asal jangan lupa hakikat yang sesungguhnya dari puasa kita, dari ibadah-ibadah kita, Mudiknya kita, Silaturahminya kita, adalah semata-mata mengharap Ridha Allah SWT. Kalo Allah udah Ridha, apasih yang bakalan nggak di kasih.
Semoga Ramadhan kita kali ini tercermin baik pada 11 bulan berikutnya. Taqabalallahu minna waminkum shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir batin, Sahabat.
Salam dari Mojang Sunda,
Asli Indonesia-na, Asli Islam-na.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar