Sabtu, 19 September 2015

Alunan Rindu dalam Rinai Hujan

Kemarau panjang melanda bumi pertiwi. Cinta ini merindu hujan yang setiap tetesnya bagai tak habis memutarkan reka masa lalu. Kelam, bahagia, menyedihkan, menyenangkan,  Ia tak peduli. Saat rinai hujan mulai menetes pada tanah, menyeruakkan aroma kenangan yang menyengat.
Tiba-tiba terdengar bunyi khas menerpa genting yang telah lama berdebu. Membasuhinya dengan tetes-tetes yang menyejukkan. Jendela itu pun mengembun, membuat tangan ini ingin bersegara menuliskan kata-kata rindu.
Katanya hujan mampu meresonansikan rindu, ada alunan lagu yang hanya dapat di dengar oleh yang merindu. Mata seketika terpejam. Pada tetes-tetes hujan itu. Terdengar melodi yang berharmoni. Getaran hujan itu ikut menggetarkan relung jiwaku.
Perlahan kubuka mataku. Tepat di depan jendela yang bertuliskan rindu. Terlihat jelas kenangan itu ikut mengalun bersama derasnya hujan menghujam bumi. Tak ada perlawanan. Menikmatinya bukan lagi pilihan, melainkan bagai keharusan.
Rindu itu menyela pada rintik-rintik hujan. Setiap hujan. Tak lupa kutitipkan  rindu yang baru pada mereka. Entah akan tersampai atau tidak. Jika hujan mampu berucap, “Aku menentramkan bumi dengan terjatuh berulang dari ketinggian yang tak pernah kau bayangkan. Terjatuhlah untuk kembali bangkit. Bangunlah dari terlelap bersama masa lalu”.
Kesunyian hujan itu memang menghipnotis manusia pada ingatan masa lalu. Misterinya tak banyak terpecahkan. Pesan hujan sampai pada hatiku. Berjuta inspirasipun ikut jatuh bersamanya. Menciptakan puisi-puisi rindu yang juga menyejukkan.
Kenangan, harapan, masa lalu. Terangkum dalam setiap bait rindu yang tertulis. Baris terakhir beriring dengan usainya rinai hujan menyapa bumi, kalimat itu adalah “Rinduku Adalah Hujan, dirimu”

Tidak ada komentar :

Posting Komentar