Jumat, 11 September 2015

Anatomi Bunga



A.           Pengertian Bunga
Bunga merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan angiospermae. Bunga dibentuk oleh meristem ujung khusus yang berkembang dari ujung pucuk vegetatif setelah dirangsang oleh faktor – faktor internal dan eksternal untuk keperluan itu. Bunga mengandung organ-organ tumbuhan, dan fungsinya ialah untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-tumbuhan yang bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan generasi yang berikut, dan bertindak sebagai cara yang utama untuk penyebaran individu-individu sesuatu spesies secara luas. Pada bunga terdapat organ reproduksi (benang sari dan putik). Bunga majemuk adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan.
Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga banci atau hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga. Ditinjau dari homologinya, bunga diinterpretasikan sebagai suatu pucuk yang termodifikasi daunnya. Bunga tediri atas sebuah sumbu tempat daun – daun ( organ ) bunga tumbuh. Bagian sumbu batang atau ranting yang merupakan ruas yang berakhir dengan bunga disebut tangkai bunga. Ujung distal tangkai bunga ini menggembung dengan panjang yang beragam dan bagian ini disebut dasar bunga. Sebuah bunga yang khas mempunyai empat macam organ.
Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga. Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:
a.    Kelopak bunga atau calyx;
b.    Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat serangga yang membantu proses penyerbukan;
c.    Alat kelamin jantan atau androecium (dari bahasa Yunani andros oikia: rumah pria) berupa benang sari;
d.   Alat kelamin betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: "rumah wanita") berupa putik.
Organ reproduksi betina adalah daun buah atau carpellum yang pada pangkalnya terdapat bakal buah (ovarium) dengan satu atau sejumlah bakal biji (ovulum, jamak ovula) yang membawa gamet betina) di dalam kantung embrio. Pada ujung putik terdapat kepala putik atau stigma untuk menerima serbuk sari atau pollen. Tangkai putik atau stylus berperan sebagai jalan bagi pollen menuju bakal bakal buah. Walaupun struktur bunga yang dideskripsikan di atas dikatakan sebagai struktur tumbuhan yang "umum", spesies tumbuhan menunjukkan modifikasi yang sangat bervariasi. Modifikasi ini digunakan botanis untuk membuat hubungan antara tumbuhan yang satu dengan yang lain. (http://ilmubertani.blogspot.com)

B.          Struktur Jaringan Peyusun Bunga
Secara anatomi, daun mahkota dan daun kelopak mempunyai struktur  yang sama yaitu terdapat sel-sel parenkimatis. Parenkim ini juga disebut mesofil. Parenkim ini terletak di antara epidermis atas dan bawah. Daun kelopak umumnya mempunyai struktur sederhana. Epidermis daun kalopak pada bagian luarnya dilapisi kutin, stomata, dan trikomata. Seperti struktur pada daun, Sel-sel daun kelopak ini juga mengandung klorofil. Struktur daun mahkota sel-selnya mempunyai satu atau banyak berkas pengangkut yang kecil-kecil. Daun mahkota mempunyai epidermis berbentuk khusus, yaitu berupa tonjolan yang disebut papila dan dilapisi kutikula. Sementara itu, benang sari dan putik mempunyai struktur sangat berbeda. Secara umum, benang sari terdiri atas kepala sari dan tangkai sari. Tangkai sari tersusun oleh jaringan dasar, yaitu sel-sel parenkimatis yang mempunyai vakuola tanpa ruang antarsel. Pada epidermis tangkai sari terdapat kutikula, trikomata, atau mungkin juga stomata. Kepala sari mempunyai struktur yang kompleks, terdiri atas dinding yang berlapis-lapis, dan di bagian terdalam terdapat lokulus (ruang sari) yang berisi butir-butir serbuk sari. Jumlah lapisan dinding kepala sari untuk setiap jenis tumbuhan berbeda. Kepala sari mempunyai beberapa lapisan dinding sebagai berikut:
1.    Epidermis, merupakan lapisan terluar yang terdiri dari satu lapis sel. Epidermis menjadi memipih dan membentuk papila pada kepala sari yang masak dan berfungsi sebagai pelindung epidermis. 
2.    Endotesium, merupakan lapisan yang terletak di sebelah dalam epidermis. 
3.    Lapisan tengah, merupakan lapisan yang terletak di sebelah dalam endotesium dan terdiri dari 2–3 lapis sel atau lebih tergantung jenis tumbuhannya. 
4.    Tapetum, merupakan dinding terdalam dari antera dan berkembang mencapai maksimum pada saat terbentuk serbuk sari tetrad.
Meristem apikal bunga biasanya berhenti aktivitasnya setelah struktur reproduktif telah diinisiasi, suatu ekspresi tipe tumbuhan yang terbatas.
1.      Tatanan Bunga
Pada tipe bunga yang sangat lebih terspesialisasi, periode-periode pertumbuhan lebih pendek dan jumlah bagian-bagian bunga lebih kecil dan terbatas. Ciri-ciri spesialisasi yang meningkat ialah tatanan bagian-bagian bunga makin tersusun secara berkarang (siklis) dibanding yang spiral, pelekatan antara bagian-bagian pada lingkaran yang sama, pelekatan antara dua atau lebih dari lingkaran yang berbeda kehilangan bagian-bagian zigomorf (simetri bilateral) dibanding aktinomorf (simetri radial), epigen (bakal buah tenggelam) dibanding hipogen (bakal buat menumpang).
2.      Sistem Vaskuler
Sistem vaskuler bunga yang tidak terspesialisasi dengan bakal buah menumpang sebanding dengan yang terdapat pada pucuk vegetatif, yaitu bekas-berkas vaskuler membelok ke organ lateral dari sistem berkas sumbu. Apabila dasar bunga memanjang, bagian-bagian bunga dapat teratur menurut pola filotaksis yang dihubungkan dengan keteraturan yang lazim dan terdapat saling hubungan dengan adanya lacak vaskuler, sedangkan pemendekan ruas yang merupakan ciri khas banyak bunga, penyatuan bagian-bagian bunga, bunga epigen (bakal buah tenggelam), dan berbagai modifikasi saling hubungan antara bagian-bagian bunga, menyebabkan sistem vaskuler bunga menjadi kurang teratur dibanding yang ada pada pucuk vegetatif dan hubungan antara sistem vaskuler pada sumbu dan pada bagian-bagian bunga kurang jelas. Setiap daun kelopak mempunyai jumlah lacak vaskuler sama dengan yang terdapat di daun pucuk vegetatif pada tumbuhan yang sama. Lacak vaskuler membelok ke daun mahkota bungasatu atau lebih ke daun tajuk pada tumbuhan dikotil, satu sampai banyak ke daun perhiasan bunga pada tumbuhan monokotil. (http://www.pusatbiologi.com)


C.          Bagian-bagian Bunga
Bunga terdiri dari sejumlah bagian steril dan bagian reproduktif atau fertil yang melekat pada sumbu, yakni dasar bunga atau reseptakulum. Bagian sumbu merupakan ruas batang yang di akhiri dengan tangkai bunga atau pedisel. Bagian steril dari bunga terdiri atas sejumlah helai daun kelopak atau sepala dan sejumlah helai daun mahkota atau petala. Keseluruhan sepala dalam bunga disebut kaliks, dan keseluruhan petala disebut korola. Kaliks dan korola bersama-sama disebut perhiasan bunga atau periantium. Jika periantium tidak terbagi menjadi kaliks dan korola, maka setiap helainya disebut tepala. Bagian reproduktif adalah benang sari atau stamen (mikrosporofil) dan daun buah atau karpela (megasporofil). Keseluruhan stamen disebut androesium dan keseluruhan karpela disebut ginoesium. (Mulyani, 2006:274)
Karpel atau kumpulan karpel yang bersatu menjadi ginesium biasanya terdiri dari tiga bagian yakni bakal buah dengan bakal biji atau ovulum, tangkai putik atau stilus, serta kepala putik atau stigma yang strukturnya memudahkan polinasi. Bakal biji melekat pada bagian dinding bakal buah yang disebut plasenta. Jika karpel berada di bagian paling tinggi dari sumbu bunga, maka bakal buah dikatakan menumpang atau superus dan bunganya disebut hipogen. Jika perhiasan bunga dan stamen terletak di tepi reseptakulum, yang berbentuk cekungan dan bakal buah ada di tengahnya maka bakal buahnya disebut separuh inverus atau separuh tenggelam dan bunganya disebut perigen. Cekungan reseptakulum dapat menutup sehingga letak bakal biji jelas lebih rendah daripada bagian bunga lainnya. Maka bakal buahnya tenggelam atau inferus dan bunganya disebut epigen.
1.         Sepal dan petal
Pada tumbuhan yang terpolinasi oleh serangga, fungsi utama korola adalah untuk menarik serangga dan oleh karena itu merupakan bagian paling luas dan besar dari bunga. Pada tumbuhan yang dipolinasi oleh angin, korola sering terreduksi atau bahkan tidak ada. Warna petal adalah akibat kromoplas yang mengandung karotenoid dan cairan vakuola yang mungkin mengandung flavonoid, terutama antosianin dan berbagai kondisi pengubah seperti PH cairan vakuola. Dinding antiklinal dari epidermis petal dapat bergelombang atau beralur internal. Dinding luar dapat berbentuk korveks atau berupa papila. Sepal biasanya berwarna hijau dan berfotosintesis. Kelopak bunga merupakan organ yang paling luar.Kedudukannya paling rendah pada dasar bunga. Disebelah dalam kelopak ada mahkota bunga yang terdiri atas daun mahkota, pada umumnya berwarna warni. Apabila antara kelopak bunga dan mahkota bunga tidak dapat dibedakan baik bentuk maupun warnanya, perhiasan bunga demikian ini disebut tenda bunga.
2.         Benang Sari (Stamen)
Kebanyakan angiospermae  memiliki kepala sari yang tetrasporangiat, dengan dua ruang sari (lokus) dalam setiap cuping kepala sari sehingga jumlah keseluruhannya empat. Filamen( tangkai benang sari ) berstruktur sederhana. Pada tumbuhan tersebut terdapat sebuah berkas pengangkut yang bisa bersifat amfikribal di sepanjang filamen dan berakhir di konektivum. Setiap cuping mengandung dua kantong polen ( kantung serbuk sari ) yang berisi nutir serbuk sari.
Dinding antera terdiri dari beberapa lapisan sel yang merupakan turunan sel parietal primer, kecuali epidermis yang dalam perkembangannya hanya membelah dalam bidang antiklinal. Dua lapisan yang penting adalah endotesium dan tapetum. Endotesium membentuk penebalan tak rata, terutama dinding radial dan tangensial dalam. Sel tafetum bersifat sekretori dan penuh sitoplasma padat. Isi sel tapetum diserap oleh butir serbuk sari yang sedang berkembang dalam lokulus sehingga ketika butir serbuk sari matang, biasanya tapetum sudah berdegenerasi.
3.         Serbuk sari
Hasil mikrosporogenesis adalah spora atau butir serbuk sari. Butir tersebut berupa tubuh yang bersimetri radial atau bilateral dan pada dindingnya terdapat bagian yang kurang kuat yang disebut aperatur. Ada yang bulat (pori) dan ada yang memanjang (kolpi). Dinding butir sari terdiri dari dua lapisan utama yakni intin yang lunak di bagian dalam dan eksin yang keras di sebelah luar. Eksin terbagi menjadi bagian yang tidak berlekuk di sebeah dalam yakni neksin dan bagian yang menunjukka pola lekukan khas di sebelah luar yakni seksin.
Berdasarkan pada cara pembentukan dinding dan pembelahan meiosis dari sel induk serbuk, ada 2 tipe perkembangan butir serbuk sari, yaitu :
a.         Tipe suksesif yaitu setiap pembelahan inti diiringi dengan pembentukan dinding.
b.        Tipe simultan yaitu tekanan kearah tepi mulai berkembang hanya setelah ke empat inti dibentuk, dan pembentukan dinding menghasilkan tekanan kearah dalam.
4.      Karpela
Pada bunga, bisa ditemukan satu helai karpel atau lebih. Jika terdapat dua karpel atau lebih, maka karpel dapat lepas satu dari yang lain (ginesium apokarp) atau karpel berlekatan dengan cara yang bermacam-macam (ginesium sinkarp). Pada ginesium sinkarp, ada dua cara perlekatan karpel. Yang pertama karpel berlekatan dengan kondsi terlipat dan muka abaksial melekat pada muka abaksial. Disini terbentuk ginesium beruang dua atau beruang banyak. Yang kedua, pelekatan terjadi dalam keadaan tak terlipat atau setengah terlipat dan terbentuk ginesium beruang satu. Pada ginesium biasanya dapat dibedakan bagian bawah yang fertil yakni bakal buah atau ovarium, bagian tengah yang steril yakni tangkai putik atau stilus. Dan yang paling ujung adalah kepala putik atau stigma.
5.      Bakal buah
Bakal buah dibedakan dinding bakal buah dan ruang bakal buah. Pada bakal buah beruang banyak terdapat sekat pemisah. Bakal biji atau ovulum terdapat pada daerah dinding bakal buah dalam (adaksial) yang disebut plasenta. Setiap karpel memiliki dua plasenta. Pada karpel, plasenta ditemukan di dekat tepi atau tidak jauh darinya, sehingga dibedakan plasenta merginal (tepi) dan plasenta laminar (agak jauh dari tepi).Plasenta parietal terjadi pada ginesium yang kelipatan karpelnya terjadi secara marginal dan hanya ada satu ruang ginasium. Pada ginesium yang karpelnya terlipat, bakal buahnya beruang dua atau banyak, dan plasentanya aksiler. Jika sekat pemisah hilang maka plasenta di tengah, bebas dari sekat. Dinamakan plasenta sentral bebas.
6.      Tangkai dan kepala putik
Tangkai putik merupakan bagian karpel yang memanjang ke atas, ke arah distal. Pada ginesium sinkarp tangkai putik berasal dari semua karpel, yang dapat bersatu atau tetap terpisah. Stilus dapat berrongga atau padat. Pada kebanyakan angiospermae stilusnya padat dan jaringan di tengah terspesialisasi menjadi jaringan transmisi yang memasok zat hara bagi tabung sari yang tumbuh melaluinya. Stigma yang menerima serbuk sari dapat menghasilkan sekret dalam jumlah besar disebut stigma basah, yang tidak atau kurang menghasilkan sekret menjadi stigma kering. Jaringan dasar stilus bersifat parenkim dan ditembus oleh berkas pembuluh angkut. Pada kepala putik terdapat jaringan sekresi yaitu osmofor, bau harum yang dihasilkan bunga biasanya berasal dari zat atau substansi yang mudah menguap seperti minyak atsiri yang tersebar pada epidemis sebagian perhiasan bunga.Pada beberapa tanaman, keharuman terdapat pada kelenjar khusus yang disebut osmofor. Osmofor merupakan kata yang bersaal dari bahasa latin yang berarti bau dan pembawa. Osmofor pada berbagai bagian bunga. Contoh osmofor terdapat pada spadix yang memanjang dari Araceae, juga jaringan yang dapat disentuh serangga pada bunga anggrek. Osmofor mempunyai jaringan seketori bebrapa lapis, jaringan ini dapat kompak dan hasilnya dapat diangkut atau diserap oleh uang antarsel. Minyak yang merupakan substansi yang sangat cepat menguap tapi dapat juga nampak dalam butiran-butiran. (Setjo dkk, 2004)
Nektarium/ kelenjar madu, yang berisi gula, biasanya terletak dekat xylem dan floem pada jaringan epidermis atau dibawah nya, ditemukan pada bunga atau diluar bunga.
Nektarium dapat dibedakan atas:
1)            Nektarium floral, ditemukan pada kelopak daun, daun mahkota, benang sari, bakal buah, atau pada dasar bunga (reseptakulum).
2)            Nektarium ekstra floral, terdapat pada batang, daun, daun penumpu, dan tangkai bunga.
Jaringan sekresi dari nektarium yang ada terbatas pada epidermis dan ada pula beberapa lapisan sel dibawahnya. Jaringan sekresi tertutup oleh kutikula dibagian luarnya dan didekat terdapat jaringan pembuluh. Jumlah gula dalam nektar, berhubungan erat dengan jumlah floem dalam jaringan pembuluh yang memasok nektarium. (Muhammadiyah, 2013).
7.      Bakal biji dan kantung embrio
Setiap bakal biji atau ovulum melekat pada dinding ovarium dengan adanya tangkai bakal biji atau funikulus yang mengandung satu berkas pembuluh. Bakal biji terdiri dari jaringan ditengah atau nuselus, dilingkari oleh integumen dalam dan integumen luar. Kedua integumen mengelilingi suatu saluran yang bermuara di pori disebut mikropil.
Pembentukan megaspora melalui peristiwa sel induk megaspora disebut megasporogenesis. Megaspora atau kantung embrio akan berkecambah dengan terjadinya mitosis pada intinya yang akhirnya memberikan kantung embrio dewasa yang berinti delapan. Ada 2 tipe kantong embrio yaitu :
a)           Tipe Polygonum dengan kantong embrio 8 inti
Mempunyai 4 megaspora yang berbeda perkembangannya, tetapi hanya satu yang terjatuh dari mikropil berkembang menjadi kantong embrio. Megaspora ini membesar dan intinya membelah menjadi 2 yang satu berpindah ke kutub mikropil dan yang lein ke kutub khalaza. Selanjutnya setiap inti mengalami 2 kali pembelahan berurutan sehingga terbentuk 8 inti.
b)            Tipe Oenothera dengan kantong embrio 4 inti
Sel sporogen membelah mitosis 2 kali sehingga terbentuk 4 inti.Ketiga inti mati sehingga tinggal satu inti yang terdapat dekat mikropil.
8.      Ovulum
Ovulum terdiri atas nuselus yang dikelilingi oleh satu atau dua integument dan menempel pada plasenta dengan sebuah tangkai yang disebut funikulus. Pada ujung ovulum yang bebas terdapat celah kecil yang disebut mikropil. Daerah tempat integument berlekatan dengan funikulus disebut khalaza. Ovulum berkembang dari plasenta ovarium. Primordial ovulum berasal dari pembelahan periklin sel di bawah lapisan permukaan plasenta. Integument bagian dalam mulai berkembang dan mulai terjadi pembelahan periklin dalam protoderm. Pada kebanyakan tumbuhan, integument luar tidak mencapai mikropil. Pada tumbuhan dengan bunga simpetala, nuselus biasanya dibungkus oleh integumen tunggal atau unitegemik, sementara pada dikotil ovulum mempunyai dua integument atau bitegmik. Pada khalaza tidak ada perbedaan antara jaringan integumen dan funikulus. (Mulyani, 2006:291)

D.    Fungsi Bunga
Fungsi bunga yang utama adalah sebagai alat perkembangbiakan generative. Perkembangbiakan generatif merupakan perkembangbiakan yang didahului pembuahan. Pada tumbuhan berbunga, pembuahan yang terjadi didahului dengan penyerbukan. Penyerbukan adalah peristiwa jatuhnya kepala serbuk sari ke kepala putik. Bagian bunga yang paling menarik adalah mahkota. Mahkota yang indah dan berbau menyengat menarik perhatian serangga, seperti kupukupu, kumbang, dan lebah. Akibatnya, tanpa disadari proses penyerbukan terjadi. Sedangkan bagi manusia, bunga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan, perlengkapan upacara adat, dan lain-lain. (http://boniusd.blogspot.com)














Tidak ada komentar :

Posting Komentar