Sabtu, 31 Oktober 2015

Senja Sang Perindu



Terhanyut aku dalam alunan rindu yang berbalas pilu.
Terbuai dalam asa yang berbalik luka.
Kini ku berdiri di sudut hari, sepi, hanya berteman lembayung senja.
Pohon rindu di sebelahku yang tersibak tiupan angin, menggugurkan daun-daun kenangan, menggetarkan jiwa yang tak terperi.
Berharap dirimu datang menghampiriku yang sendiri.
Namun, seakan tak mungkin terjadi.
Ku tertunduk lesu, seketika terpaku terbayang lengkung senyummu, kemudian teringat untaian kata bijak itu.
Walau ku tahu semua itu menyakitkan.
Biarlah tak perlu kau perduli.
Mungkin kau pun tak sadar, ku selalu mengintai bayangmu.
Saat kau ukir luka, saat kau tulis perih, menggores tinta kepedihan, sekali lagi tanpa lirikan meski hanya sebelah matamu.
Tak pernah ku sesali, meski sedikit berharap kau akan mengerti.
Ku rasa ini luka terindah yang kupahami.
Jingga senja itu telah menghitam di batas horizon, semoga membawa serta pergi cerita ini.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar