Sabtu, 23 Januari 2016

Selamat Pagi, Pagiku: Pergilah untuk Kembali



          Hitam telah menyelimuti kelamnya malam. Lekaslah terlelap pagiku. Ku tahu kepenatan merundungmu. Hari yang cerah tengah menantimu kembali. Kerlipnya bintang biarlah berlalu. Purnama yang cemerlang sejenak biarkan. Segeralah terlelap, Pagiku. Sampai jumpa esok, kala fajar hendak datang, ketika udara dingin mulai menepi, di antara rerintik lepas hujan, di antara lelap dan harap, saat aku berani menyapamu.
Hanya saat itulah aku berani menyapamu, melalui untaian kalimat yang ku terbangkan kelangit, kuyakin semua akan tersampai, tak apa. Aku terkadang sering bertanya-tanya, adakah sama kau lakukan itu? Bukankah ketika dilakukan bersama mungkin untaian kalimat itu bersatu, lalu, menggetarkan alam, sehingga turut di-amin-kan semesta. Ahh abaikan saja apa kataku tadi.
          Pagiku, kali ini aku ingin mengatakan sesuatu, kali ini entah kenapa Aku sangat ingin kau mendengarnya. Pasang telinga baik-baik yah, hehe. Tapi bagaimana caranya kau mendengar ucapku. Mungkin ketika ku berbicara dengan hati maka akan sampai pada hati. Yasudahlah, Aku hanya sedang ingin berkata.
          Mentari telah meninggi. Kau pun mungkin sudah bersiap, bahkan sejak tadi. Semoga penatmu ikut meluruh bersama cerahnya langit pagi. Melangkahlah dari ragu, Pagiku. Melangkahlah dari masa lalu, ada mentari tengah menanti. Hari ini dan esok ada kanvasmu yang baru, bersih, kau boleh menggambarnya sebaik mungkin. Lepaskan bayangmu hari kemarin, Pagiku.
          Melangkahlah dari ragu. Kepastian sedang berpacu dengan waktu. Dapatkan kesempatan itu. Tataplah ke depan yang penuh harapan. Melangkahlah. Selagi jiwa masih bersama raga. Selagi mentari masih menyinari. Aku memang tak ada di sampingmu, mungkin belum. Percayalah, Allah selalu bersamamu.
          Terjatuhlah untuk kembali bangkit, meski mentari kian terik menyengat, langkahmu kian tersendat, rakit semangat lalu bangkit, bukan karena Aku, bukan pula karena kau terlalu kuat, kulihat Iman di dadamu terlanjur melekat. Seberat apapun, kau punya Allah yang Maha Kuat.
          Mentari, tolong sampaikan pada pagiku. Tetaplah melangkah. Tetap menebar embun kesejukan. Katakan, tetaplah jadi dirinya, menjadi Pagiku yang menebar kesejukkan yang menetramkan, bermanfaat.
          Melangkahlah gapai hari yang cerah. Pagiku, melangkahlah dengan terarah. Kemanapun derap kaki melangkah kembalilah di sini. Oh ya, tanyakan padanya mentari, barangkali ketika aku bertanya sekarang ia tak mendengar, tanyakan, Kau tak akan lupa jalan pulang kan?
Ku nantikan kau dibatas waktu, 
Selamat Pagi, Pagiku 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar