Sabtu, 27 Februari 2016

Cerita dan Makna: Maaf untuk Berpisah [Fiksi]



            “Kita putus aja ya?” Katanya datar.
          “Hah? (melongo, kaget, speechless)”, ku terdiam sejenak mendengar ucapannya itu, tak ada angin tak ada hujan, mengapa kata-kata itu terucap.
          “Maksudmu? Nada gak ngerti ihh Fahri ngomong apaan?” Timpalku.
          “Iya Nad, kita putus” masih saja datar tanpa ekspresi lebih.
          “Tapi kenapa? Bukannya kita baik-baik saja? Apa ada yang salah dariku?” Tanyaku perlahan, sambil menahan air mata yang telah siap menganak sungai.
          “Gak ada, justru ini karena Fahri sayang banget sama Nada, Fahri gak mau menodai cinta kita dengan hubungan ini” Jelasnya
“Fahri gak mau kita terus-terusan tenggelam dalam hubungan yang membuat kita menjauh dari Allah” Ucap Fahri dengan sedikit senyum yang seperti dipaksakan.
          “Tapi Fah?” Tak banyak yang mampu ku ucap, air mata ini tak kuasa lagiku bendung.
          “Kalo memang Allah berkehendak, kita akan dipersatukan kembali oleh Allah, jaga diri baik-baik, Fahri sayang Nada karena Allah” Ujarnya sambil berlalu pergi.
          Perkataan Fahri begitu menyayat perasaanku. Iya, namanya Fahri, lengkapnya Muhamad Fahri. Kita sudah menjalin kasih sejak kita sama-sama duduk di kelas IX hingga kini kita tengah duduk di kelas XI. Tiga tahun sudah  kisah kasih ini terjalin begitu indah. Perangainya yang baik, penyabar dan pengertian membuat kami jarang terlibat perselisihan.
Semua berjalan dengan baik, hingga pada jam istirahat sekolah Ia mengucapkan kalimat yang tak ku duga, sebuah kalimat perpisahan yang menyakitkan, sama sekali tak pernah ku bayangkan terucap dari mulutnya.
Oh ya, tiba-tiba Aku teringat percakapanku dengannya minggu lalu di taman sekolah setelah pelajaran terakhir usai,
“Gimana hari ini, bu guru killer itu gak ngapa-ngapain kamu kan Fah?” Tanyaku
“Ssstt, gak boleh gitu Nad” Jawab Fahri
“Huuuuu, becanda doang lagiii serius amat ihh gak biasanya gituuu”  Timpalku
“Nada?”
“Fahri?”
“Menurut kamu hubungan kita tuh gimana?”
“Gimana apanya Fah?  Kamu yang gimana, kenapa nanya begini segala coba”
“(krik krik krik – hening -)”
“Jangan-jangan kamuuu. . .” Aku bertanya dengan ekspresi curiga
“Nggak Nad, ngaak! ” Timpal Fahri (Sepertinya Fahri dapat menebak arah pembicaraanku, haha)
“Apa Allah gak marah ya sama hubungan kita?”
“Berat banget sih Fah bahasannya, udah ahh yuk kita pulang aja” Jawabku sambil menarik tangannya untk segera beranjak.
Semenjak saat itu Aku rasa ada yang berubah dengan Fahri. Sikapnya tak sehangat dulu, perhatiannya tak seperti dulu. Ahh, iya Aku baru sadar apa arah ucapannya itu. Masih dengan kegamangan dalam hatiku, beberapa hari setelah Fahri memutuskanku, ku dengar tentang cerita hijrahnya dari teman-teman, karena sejak putus kita udah lost cantact sama sekali. Beriring pula dengan kabar putusnya Aku dengan Fahri makin banyak aja yang minta konfirmasi, berasa jadi seleb dadakan, memekakan telinga mendengarnya, hufft.
Katanya, sekarang Fahri udah jadi anggota Rohis di sekolah, yang notabene Aku pun sering dengar mereka selalu menyuarakan diri sebagai Remaja anti pacaran. Apa ini alasannya? Entah apa perasaanku saat ini, harus sedih atau bahagia. Apa Akupun harus ikut Rohis juga agar bisa terus dekat dengannya. Pasti ketahuan bangetlah aku masuk Rohis cuma gara-gara ada Fahri, gengsi dong yah.
Aku semakin tak mengerti dengan diriku, seandainya dapat ku hentikan waktu, ingin kuhentikan sampai di sini saja, Aku tak sanggup tanpanya. Hari-hariku terasa sangat hambar. Hariku seperti tak lengkap. Langitku seakan selalu sendu tanpa hadirnya. Aku merindumu Fahri, teramat sangat merindu.
Tak banyak yang bisa kulakukan, Rindu ini bertepuk sebelah tangan, Aku yang sendiri, begitu menyedihkan memang. Hanya melalui untaian kata, melalui sajak-sajak Rindu dapat kucurahkan semua rasa.
“Fahri, Aku masih ingin menjadi pensil yang dapat mewarnai hari-harimu. Aku masih ingin menjadi penghapus yang dapat menghapus kesedihanmu” Tak ada jawaban, hanya hening, kembali sangat menyedihkan.
Dan pada akhirnya setiap kenangan yang hadir berakhir pada goresan pena dan air mata. Pada setiap lariknya seakan memaksa otakku memutar kisah kasih yang pernah ada berulang-ulang dibumbui dengan sekaan air mata. Menjadikan  setiap goresan puisi-puisi rindu itu seakan mengabadikan kenangan, huahhh. Kemudian aku berpikir untuk membakarnya saja, berharap setiap kenangan akan ikut terbang bersama asap yang mengangkasa.
Karenanya menjadikanku mencari tahu alasan mengapa Fahri memutuskan untuk pergi, mengapa Fahri bisa melupakanku dengan segera padahal katanya Fahri mencintaiku, mengapa hubungan kami yang kata Fahri membuat Allah marah.
Aku mulai bertanya pada apapun yang bisa kutanyai termasuk pada anak rohis yang sempat ku benci karena memisahkanku dengan Fahri.
“Pacaran emang dilarang ya Des?” Aku memulai pembicaraan dengan Desi yang merupakan salah satu anggota rohis di sekolah.
“Udah pernah khatam al-quran Nad?” Desi malah berbalik tanya.
“Kenapa emang?” Tanyaku.
“Ngajinya udah nyampe surat Al-Isra ayat 32 belum?”
“Hah? Yaudahlah gini-gini Aku juga udah pernah khatam quran kaliiii” jawabku polos.
“Nah harusnya berarti kamu tahu Nad, itu jawaban yang kamu cari” Tutur Desi.
“Ah, jelasin aja deh sama kamu yah, yah” Pintaku
Tak banyak yang Desi jelaskan, Desi bertutur bahwa Surat Al-Isra ayat 32 itu artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk” .
“Aishh, tapi Aku gak pernah macem-macem kok” Kataku
“Dalam ayat itu, sudah jelas kan Nad. Mendekati zina aja gak boleh apa lagi zinanya. Pacaran itu ya salah satu jalan mendekati zina. Meski gak macem-macem kan sama aja pacaran. Lagian katanya gak macem-macem, ya mending gak usah pacaran aja kan Nad, hehe” jawabnya santai
“Tapi Des, kalo kita sayang sama dia gimana? Apa salah?”
“Perasaan cinta kasih itu  fitrah, tapi jangan sampai jadi fitnah, kalo sudah siap ya nikah aja. Kalo belum siap, seperti apa kata Rasul, ya puasa, simple kok sebenernya Nad”
Percakapan kami berakhir sampai di situ, adzan dzuhur telah berkumandang, kita berdua segera mengambil air wudhu dan shalat sebelum bel jam istirahat berbunyi kembali. Untuk hari ini, sudah cukuplah untuk menjawab rasa penasaranku.
Sebenarnya sampai detik ini Aku masih gak bisa nerima keputusan Fahri. Aku yang bodoh apa gimana sih, jejak-jejak kenangan bersama Fahri masih saja berkelana liar di otakku, semakin dilupakan semakin liar, arghhh.
Detik demi detik berlalu begitu cepat. Ternyata Aku bisa juga mulai  beradaptasi dengan keadaan. Kini kita, iya, Nada dan Fahri, telah sibuk dengan dunia masing-masing, tanpa pernah saling memedulikan, Aku mulai sibuk sebagai anggota OSIS sedangkan dia makin fokus sama Rohisnya, katanya malah sekarang dia udah jadi pimpinan redaksi buat buletin Rohis, ikut seneng aja deh. Ya tentunya selain sibuk sama tugas sekolahnya ya.
Oh ya, kalo boleh jujur, semenjak obrolan aku sama Desi, Aku memutuskan untuk gak pacaran lagi, daaan sebenernya Desi ngajakin Aku masuk Rohis juga waktu itu, tapi ya demi kebaikan Aku dan Dia, menurutku lebih baik Aku nggak ikut masuk juga deh. Eit, di kepengurusan OSIS Aku bagian dari sekbid kerohanian gitu kok, yang penting sama-sama dakwah kan? Meski caranya beda.
Terus perasaanku gimana? Ah kalo boleh jujur lagi, masih sayang bangetlah sama Fahri (Ssstt!), Aku juga tahu pasti hati Fahri pun terluka, ya tapi Aku udah serahin semua perasaanku sama Allah kok mungkin begitu juga dengan Fahri, hatiku adem banget dah jadinya, hehe. Seperti yang Fahri pernah bilang, kalo Allah berkehendak nanti kita bakal dipersatukan lagi kok, dengan jalan yang halal tentunya.
Ucapan Fahri itu kalo diinget-inget  jadi berasa kaya PHP gitu yah, haha, ahh itu mah perasaanku aja, kan urusan kita udah diserahin sama Allah, Allah mah gak bakal PHP. Aku memang baru bisa sapa dia lewat doa, mungkin suatu saat dia yang mimpin doa di depan Aku, haha.
Aku bersyukur Fahri menjemput hidayah Allah melalui Rohisnya, dan Aku dapat menjemput hidayah Allah melalui dirinya. Aku memang berdoa agar kelak bisa bersamanya, tapi jika Allah tak menakdirkannya, Aku yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik. Sekarang Aku hanya perlu perbaiki diri dan meng-istiqamah-kan langkah yang telah ku mulai. Aku percaya, Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitupun sebaliknya.
“Hayoooo!!!”
“Apa sih Ay? Kaget tahuuu”
“Mangkannya jangan mikirin Aku terus, hahaha”
“Ayanaaa!  Ke-pe-de-an banget sihhh”
“Haha, Hayu ah masuk ruangan, si ketua udah dateng tuh, rapatnya mau di mulai”
Daaan rapat OSIS mengakhiri lamunanku tentang semuanya. And life must go on, Let gone by gone. Lets make ourself better!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar