Sabtu, 13 Februari 2016

Chemistry of Love (1st): Reaksi Kimia pada saat Jatuh Cinta

          99,9% dari populasi manusia yang ada, saya yakin pernah merasakan jatuh cinta, setuju? Kalo kata Rhoma Irama kan Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, hehe. Ngomongin cinta-cinta-an biasanya bikin baper kan? tapi kali ini saya pengen ngajak kalian mikir, yoo, mikir. Karena cinta bukan sekedar bicara perasaan, tapi butuh logika biar ngimbang, muehehe.
          Pernah gak sih mikir, kenapa kita bisa ngerasa jatuh cinta? Gimana reaksi di tubuh  kita saat perasaan cinta itu melanda? And kenapa perasaan cinta terkadang bikin kita berbunga-bunga?
          Sebenernya pertanyaan utama yang terlebih dahulu kita harus tahu jawabannya adalah dari bagian tubuh mana sih perasaan cinta itu? Dari hati? Bukan padahal. Jawabannya adalah otak, otak merupakan pusat pengendali tubuh.
Di otak terdapat suatu kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon, yang mana bila ada rangsangan saraf yang sesuai, maka hormon akan diseskresikan kemudian diangkut oleh darah menuju target sehingga dapat mengatur aktivitas tubuh. Hormon yang disekresikan emang sedikit pake banget, tapi pengaruhnya, bisa kamu kamu rasain sendiri lah yaa.
          Secara ilmiah, perasaan cinta adalah sekumpulan reaksi kimia yang terjadi pada manusia. Setiap aktivitas pada tubuh merupakan bagian dari reaski kimia, termasuk jatuh cinta. Hormon-hormon berpengaruh yang disekresikan pas lagi jatuh cinta di antaranya yaitu dopamin, endorfin, feromon, oksitosin, Phenylethylamine (PEA). Oke kita coba pretelin satu-satu deh, yuk!
1.        Dopamin
            Hormon ini disekresikan oleh hipotalamus. Saat jatuh cinta, hormon ini tersekresi, membuat efek bahagia, penuh energi juga bersemangat, sekaligus memicu hormon adrenalin tersekresi yang menyebabkan denyut jantung semakin cepat, karena ini nih bikin kamu kamu jadi dagdigdug gitu :D.
Biarpun jumlah zat ini cuma sedikit, itu aja sudah cukup untuk memberikan rasa melayang yang kamu rasakan waktu kamu sedang jatuh cinta. Selain itu, ngefek juga ke berkurangnya produksi serotonin yang negebuat nafsu makan turun dan kurangnya konsentrasi, nah, jadi wajar kalo orang yang lagi jatuh cinta kadang jadi kurang fokus.
2.        Endorfin
Endorfin sering dibilang homon feel good, yap, efeknya bikin bahagia banget berjuta rasanya dan bisa ngebuat kamu memandang sesuatu menjadi indah. Yah jadinya mau makan direstoran mewah atau sekedar di makanan pingir jalan kalo lagi sama doi ya fine fine aja, kalap :D.
3.        Feromon
Banyak ahli mengatakan bahwa hormon feromon memiliki andil dalam menimbulkan rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Rasa sayang, cinta, rindu di timbulkan oleh feromon. Senyawa Feromon ini akan aktif ketika yang bersangkutan telah memasuki usia yang cukup (baligh).
Setiap feromon berhembus dari tubuh maka feromom ini akan tercium oleh VNO dan akan diteruskan ke daerah hipotalamus yang juga mengatur emosi manusia. Dan setelah menerima ransangan, otak akan memberi respon balik dan akan mempengaruhi kondisi psikologis tubuh misalnya akan terjadi perubahan detak jantung, nafas yang menjadi tidak beraturan, suhu tubuh meningkat, keringat, dan lain-lain.
4.        Phenylethylamine (PEA)
Hormon ini nih yang ngebuat kamu bisa senyum-senyum sendiri pas mikirin doi, awas loh jangan keterusan, hahaha. Ternyata ini juga yang merangsang pensekresian endorfin, dopamin dan norepinephrin.
5.        Oksitosin
Oksitosin membantu agar tubuh menjadi lebih nyaman dan hanya diproduksi ketika berada dekat dengan orang yang dicintai. Itulah mengapa terkadang kamu sering merasa ingin bertemu terus sama doi. senyawa oksitosin berperan dalam membuat rasa cinta itu rukun dan mesra diantara keduanya. Hormon ini juga dianggap bertanggung jawab membantu membuat orang terikat dengan pasangannya untuk saling mencintai #eeaaa.
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).
Jadi, perasaan jatuh cinta ini selang beberapa waktu akan menghilang sedikit demi sedikit. Hal ini disebabkan produksi senyawa tersebut tidak berlangsung terus menerus, kemampuan tubuh menghasilkan senyawa itu mulai berkurang setelah dua sampai empat tahun. Akibatnya, rasa tertarik pada seseorang pun mulai meluntur, terutama ketika tubuh tidak lagi memenuhi kebutuhan PEA. Pada saat rasa ketertarikan itu kian meluntur, maka otak akan tetap berusaha untuk memproduksi senyawa oksitosin selama kedua pasangan berusaha untuk saling menyayangi dan setia.
Nah, terus gimana dong? Masa cinta itu bermasa? Emang sih, di dunia ini gak ada yang abadi, ya kan? Mau tahu solusi Islamnya gimana? Pantengin terus next note yaaa. Insya Allah di share. Buat kali ini, sampe sini dulu yah, Wallahu ‘Alam bish Shawab.
See you, Salam!

2 komentar :

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Cintanya sudah main kimia - kimiaan :D terus kalau cinta yang sudah lebih dari 4 tahun namanya apaan mbak ?? :D

    BalasHapus