Sabtu, 20 Februari 2016

Chemistry of Love (2nd): Bicara Cinta dari Perspekif Islam




Assalamu’alaikum, there! Alhamdulillah sesuai janji, note ini akhirnya rampung juga. Sebelumnya, saya saranin baca note kemarin mengenai Reaksi Kimia pada saat Jatuh Cinta di sini.
Oke deh, kemarin kita bahas tentang reaksi kimia pas jatuh cinta. Nah problemnya kan, ternyata hormon-hormon yang tersekresi itu ada masanya, yang lama kelamaan produksi di tubuh berkurang, menurut penelitian itu berkisar antara 3-4 tahun aja. Kebayang dong? Berarti disitu kamu akan berada pada titik jenuh sama doi.
Eitt, tapi woles aja, ada masalah ada solusi, sepaket gitu, kaya Aku sama Kamu, Ehh. Hayu ah kita bahas gimana Islam bisa jadi solusi bagi problem ini. Karena, Islam itu agama yang Kaffah (menyeluruh), dalam Islam dibahas seluruh aspek kehidupan, dari bangun tidur, bangun negara bahkan bangun cinta, hehe.
Solusinya adalah nikah. Iya guys nikah. Menurut saya, Pernikahan adalah solusi paling baik yang ditawarkan oleh Islam karena merupakan ikatan yang sah diakui agama dan Negara. Selain itu, banyak banget faedah yang kita dapet dari penikahan seperti menjaga kehormatan, menjaga nasab, mendapat ketenangan juga ketentaraman dan masih banyak manfaat lainnya.
By the way, saya bicara nikah bukan berarti lagi ngebet pengen cepet nikah, bukan kode kok bukan, haha. Ya, meski saya jomblo, aish kadang gak enakan nyebut jomblo sama diri sendiri, terlalu bikin baper, wkk. Saya sih pengennya bilang, udah taken kok, cuman si doi masih otw, jadi kita LDR-an, kalo udah saatnya nanti biar Allah yang mempertemukan. Kok jadi curhat gini, hahaha.
Sebenernya mau istilahnya sekarang masih jomblo, single, atau taken tapi LDR, apapun deh, yang penting sendirinya kita ya karena pilihan bukan karena keadaan, bukan cuma karena nasib, agree?. Pilihan pun mesti punya landasan, bukan asal-asalan. Islam yang jadi landasan, Al-Quran jadi tuntunan, sendirinya kita atau nikahnya kita ya lillahi ta’ala. Jomblo fi sabilillah (Jofisa), udah nikah jadi berkah, asikk.
Maafin jadi kemana-mana dulu, baca sampe abis yah, hehe. Efek-efek dari hormon yang tersekresi pada saat jatuh cinta ternyata mulai berangsur-angsur berkurang pada 3-4 tahun kebersamaan. Namun, jika sudah menikah, maka ada ikatan yang menjaga cinta yang ada. Apalagi jika pernikahan dan cinta yang dijalani berlandaskan Allah, maka Insya Allah, Allah akan turut menjaga cinta yang terjalin. Kalo kata orang sunda setelah sekian lama nikah “bogoh teh jadi nyaah”, emang iya sih, ya intinya mah nyaah itu lebih lebih dari cinta, hehe.
Yap itu kalo pernikahan. Lah kalo cuma sekedar pacaran, hadeuh repot dah urusan. Ikatan yang gak diakuin di manapun, gak Negara apalagi Agama, ya paling secara sosial doang sih. Meski yang pacaran bisa aja jalan terus meski tanpa ikatan pernikahan, tapi tetep aja kan pernikahan itu jauh lebih menjaga. Ikatan pacaran itu semu, jadi pas udah ngerasa bosen, bisa tinggal gitu aja, bisa lepas tanggung jawab semaunya. Ah, sok aja kalo ada yang mau, saya mah da gak mau digituin.
Menurut sebuah artikel Bimbingan Belajar Islami Permata Umar, dalam Islam tingkatan Cinta dibagi menjadi 3 yaitu Sakinah, Mawaddah, Warahmah.
1.        Fase Sakinah
Pada fase Sakinah; Karena dalam Islam tidak mengenal pacaran sebelum Nikah, maka pasca Nikah Hormon-hormon Cinta yang kita bahas sebelumnya di sini bekerja sempurna. Kalau dalam Pacaran bersentuhan dengan lawan jenis menjadi laknat maka pacaran pasca Nikah ini bercengkrama bersama istri/suami menuai pahala bahkan malaikat serta seluruh dunia mendoakan kebahagiaan mereka, 3-4 tahun berlalu setelah itu meningkat ke fase selanjutnya.
2.        Fase Mawaddah
Fase Mawaddah; dimana saat ini efek berbunga-bunga telah hilang berganti menjadi efek saling membutuhkan. Ketika si Istri membutuhkan suami sebagai pathner, kakak, sahabat begitupun sebaliknya. Suami tak sungkan-sungkan bangun membuatkan susu si kecil ketika melihat sang Istri tertidur lelap karena terlalu capek, Istripun sukarela menyediakan semua kebutuhan suami dan membuat kondisi rumah nyaman saat suami ada di rumah. Mantep dah.
3.        Fase Warahmah
Fase Warahmah; fase inilah ketika kasih sayang sudah berlimpah, masing-masing sudah paham kekurangan dan kelebihan pasangan dan membuat semuanya serba indah. Tak heran jika kita melihat orang tua kita tidak bisa jauh satu sama lain. Kadang tingkah mereka membuat kita tersenyum sendiri. Mereka sering tiba-tiba menangis jika salah satu dari mereka terluka sedikit saja.
Wah Subhanallah, memang pernikahan adalah solusi cermat dan tepat yang diberikan Islam untuk mengelola perasaan cinta. Agar cinta dapat terjaga tetap dalam fitrah dan kesuciannya. So, sekarang mau gimana? Ya pilihan ada di kamu, tapi, semoga pilihan kita adalah pilihan yang terbaik yah, terbaik dalam Ridha Allah. Wallahu ‘Alam bish Shawab.
Salam, Jofisa!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar