Sabtu, 06 Februari 2016

Diary pagi: I did love you, Sorry [Fiksi]



          Fajar menyingsing di ufuk timur, memancarkan gradasi warna menakjubkan yang tampak jelas dari tepat ku terduduk saat ini, di meja belajar dekat jendela kamarku yang menghadap timur. Embun masih bergelantung di antara serasah rerumputan.  Sedikit mendinginkan sisa gemuruh jiwa semalam. Cuaca hari ini akan cerah pikirku. Mungkin akan berbanding terbalik dengan hariku.
          Semalam, pada secarik kertas ini sebenarnya ku ingin menuliskan segala gundah dan gelisah yang telah memenuhi pikiranku, tapi tak sempat tertulis sepatah katapun, bahkan hanya sebuah titikpun tidak. Apa yang membuncah dalam otakku hanya dapat kuterjemahkan dengan air mata.
           Sepagi ini Aku ingin melanjutkan yang bahkan belum ku mulai itu. Rasanya sudah tak dapat ku tahan lagi, tergores melalui pena itu, satu kata pertama, kemana? Kemudian beranak pinak menjadi sangat banyak. Kemana dirimu yang selama ini selalu ada, kemana dirimu yang selama ini memanjakan telingaku dengan kata-kata manis, kemana dirimu yang telah membuatku terlanjur nyaman dengan segala perilakumu. Kamu memang hadir saat hatiku tengah terluka, seakan mengobati luka yang ada, namun setelah Ia akan segera sembuh kamu membuat luka itu kembali menganga, lebih, melebihi sebelumnya.
          Goresan penaku kali ini sangat abstrak, seperti tulisan anak kecil yang sedang belajar menulis, sangat menyedihkan yang ku usahakan tanpa linangan air mata, cukup pikirku. Salah memang, mungkin salahku, tetap terbuai pada bualan manisnya yang ternyata berbalut racun yang membunuh bahagiaku secara tiba-tiba.
          Sekitar beberapa bulan lalu, saat Aku baru saja putus dengan kekasihku, Ia hadir membawa ceria, seperti semilir angin di tengah terik, seperti hujan di saat kemarau, seperti mata air di tengah oase. Hubungan kita menjadi lebih dekat, Aku mulai bisa mencintaimu. Akhirnya ku ulangi lagi, ku biarkan hubungan ini lebih dari sekedar teman.
Kubiarkan diriku larut kembali dalam lumpur dosa untuk yang kedua kalinya. Terbutakan oleh cinta semu. Terjerembab pada lubang yang sama, bodoh sekali memang. Sudah ku tahu dosa tetap saja dilakukan atas nama cinta, hah cinta? Perasaan nyaman menjadi sayang kemudian menjadi cinta, sebenarnya Adakah seperti ini yang dinamakan cinta?
Kamu selalu hadir dalam hari-hariku, menemani bercerita meski hanya melalui sambungan telepon atau sekedar pesan singkat, terkadang mengisi hari dengan jalan bersama, seakan hanya kamulah duniaku waktu itu. Hingga kamu memutuskan  untuk pergi, pergi tanpa pamit hanya sebuah pesan selamat tinggal yang tak ku mengerti, menghilang. Rantai bahagiaku seakan terputus.
Luka kemarin saja baru mengering, bahkan belum sembuh betul, kamu membuat luka yang baru bahkan membuat luka kemarin kembali menganga. Aku bahkan masih berharap kamu bisa kembali untuk menyembuhkan luka itu. Betapa pedihnya pengharapan ini.
Ya Rabb, mungkin ini caramu menegurku, menegur hambamu yang selalu menutup mata atas perintah-Mu, tidak peduli pada larangan-Mu. Aku sangat bersyukur atas teguran-Mu, artinya Engkau masih menyayangiku. Kini Aku tak mau, tak akan mau terjatuh untuk ketiga kalinya.
Pada rasa yang pernah ada, kurasa cukup sampai di sini saja. Saatnya Aku kembali pada jalan Rabbku, Sang Pemilik Cinta, yang tidak akan pernah mengecewakan, yang tidak akan membiarkanku merasakan  pedihnya pengharapan.
Padamu yang telah menorehkan luka, Aku selalu yakin tiada suatu kejadian yang sia-sia, setiap hal yang terjadi pasti untuk sebuah alasan, termasuk setiap luka dan air mata yang kau beri. Biarlah Allah mengobati luka yang ada, menyusun potongan hatiku yang terluka seperti sedia kala, meski tak seperti semula tapi  setidaknya tidak lagi terasa menyakitkan. Biarlah Allah yang akan menggilirkan air mata dengan senyuman.
Kini, ku pasrahkan setiap cinta, rindu, pengharapan juga bayangmu pada Allah. Agar Aku dapat menjalani hidup dengan lebih baik, tentram bersama Cinta-Nya. Aku telah merelakanmu karena Allah, mengikhlaskan juga memaafkanmu karena Allah. Aku yakin cinta yang tepat akan Allah berikan pada saat yang tepat, melalui cara yang tepat bukan seperti kisah kita kemarin.
Sepertinya mentari telah meninggi, sinarnya turut menghangatkan hatiku. Embun telah mulai mengering, tapi Cintaku pada-Mu takkan pernah ku biarkan kembali mengering. Secarik kertas ini telah terisi  penuh, tak ada ruang tersisa barang untuk satu kata, seperti hatiku yang kini telah terisi penuh dengan energi positif untuk kembali mengawal hari. Alhamdulillah –

Tidak ada komentar :

Posting Komentar