Sabtu, 05 Maret 2016

SPHENOPSIDA (PAKU EKOR KUDA) DAN PSILOPSIDA (PAKU PURBA)

A.           Struktur dan Bentuk Sphenopsida dan Psilopsida
Pterydophyta dibedakan  menjadi empat subdivisi, yaitu psilopsida, Lycopsida, Sphenopsida dan Pteropsida. Akan tetapi yang akan dibahas pada makalah ini adalah Sphenopsida dan Psilopsida.
1.             Sphenopsida atau Equisetopsida (Paku Ekor Kuda)
(Equisetum telmateia)
Spenopsida sering disebut paku ekor kuda (horsetail) karena memiliki percabangan yang berbentuk ular sehingga menyerupai ekor  kuda. Kebanyakan paku Spenopsida hidup ditempat berpasir. Sporofit paku ekor kuda memiliki daun kecil berbentuk sisik, agak transparan, dan tersusun melingkar pada batang. Batang tampak keras karena dinding selnya tersusun atas silika. Pada beberapa ujung batang terdapat spongarium untuk menghasilkan spora. Spora yang dihasilkan memiliki ukuran yang sama tetapi jenisnya berbeda. Oleh karena itu paku ekor kuda termasuk kedalam paku peralihan.
Paku ekor kuda memiliki akar sejati berupa rizoma, gametofit mengandung klorofil sehingga dapat berfotosistesis. Gametofit berasal dari perkembangan  spora. Gametofit menghasilkan anteridium dan arkegorium. Contoh Sphenopsida antara lain Equisetum ramosissimum, Equisetum arvense dan Calamites (sudah punah).
Tumbuhan jenis spenopsida terdiri dari rizom dalam tanah yang tumbuh menahun yang membentuk  percabangan diatas tanah. Pada beberapa spesies batang-batangan tumbuh bertahun-tahun, pda yang lainnya pertumbuhan hanya terbatas pada satu musim, dimulai pada musim semi.
Struktur dan bentuk dari Sphenopsida adalah sebagai berikut:
a.         Memiliki percabangan batang yang khas berbentuk ulir atau lingkaran sehingga menyerupai ekor kuda.
b.         Tumbuh di tempat berpasir.
c.          Sporoitnya berdaun kecil atau berbentuk sisik warnanya transparan dan tersusun melingkar pada batang.
d.        Batang berongga dan beruas-ruas
e.         Menghasilkan spora demean bentuk dan ukuran yang sama, tetapi jenusnya berbeda.
f.          Gametofitnya berukuran kecil dan mengandung klorofil.
g.         Berasal dari genus Equisetum.
h.         Pada saat zaman purba, tinggi sphenopsida tingginya mencapai 15 m.
i.           Namun ada beberapa diantara Shenopsida yang masih bisa hidup sampai sekarang.
j.           Bentuk bersemak yang simetris menggambarkan nama umum untuk ekor kuda.
k.         Fotosintesis dilakukan oleh batang dan cabang-cabangnya, karena pada daunnya sangat kecil dan pada spesiessnya  daun tidak mengandung klorofil.
l.           Trobolus terdapat pada batang dan cabang-cabangnyA.
m.        Jaringan korteks yang luas mengandung saluran  udara yang memanjang dari buku-buku.
n.         Lapisan kambium tidak ada
o.         Jaringan pembuluh tereduksi menjadi lingkar berkas pembuluh yang sangat kecil.
p.         Tiap berkas terdiri dari sekelompok swl floem ayak dan dua sel xilem yang kecil mengapit floem pada kedua sisinya
q.         Serat-serat sklerenkima terletak pada korteks bagian luar, berperan menegakan batang. Serat-serat dan sel epidermisnya mengandung banyak silikat.
Gametofit paku ekor kuda berukuran kecil (hanya beberapa milimeter) dan mengandung klorofil sehingga dapat berfotosintesis. Gametofit ada yang menghasilkan alat kelamin jantan (anteridium), ada pula yang menghasilkan alat kelamin betina (arkegonium). Gametofit jantan tumbuh dan spora jantan, sedangkan gametofit betina tumbuh dari spora betina. Sphenopsida tumbuh melimpah pada masa Karboniferus, dengan ukuran yang besar dan tingginya mencapai 15 m. Sphenopsida merupakan pembentuk endapan batubara.
2.             Psilopsida (Paku Purba)

Kata “Psilo” pada nama Psilopsida dan kelompok yang tercangkup di dalamnya menunjukan keadaaan gundul dan tanpa daun pada batang langsung kebanyakan tumbuhan yang masih hidup dan yang sudah punah dalam subdivisi Tracheopyta.
Psilopsida  merupakan paku purba yang sebagian besar anggotanya sudah punah. Psilopsida adalah tumbuhan paku yang paling sederhana. Psilopsida yang masih hidup saat ini adalah Psilotum nudumi. Psilopsida memiliki bentuk tubuh sangat sederhana dengan tinggi sekitar 30cm-1m. Sporofit umumnya tidak memiliki daun dan akar sejati, tetapi memiliki rizom yang dikelilingi oleh rhizoid. Struktur batangnya bercabang dua (dikotom), berklorofil dan sudah memiliki sistem vaskular (pembuluh) untuk mengangkut air dan garam-garam mineral. Spongarium dibentuk  diketiak setiap ruas batang. Spongarium menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang sama (paku homospora), gemetofit tidak mngandung klorofil, sehingga tidak dapat berfotosintesis. Oleh karena itu gemetofit akan bersimbiosis dengan jamur untuk mendapatkan nutrisi.
Namun ada beberapa pengecualian terhadap paku-paku purba yang telah memiliki daun. Ciri-cirinya sebagai berikut :
a.         Daunnya berukuran kecil dan seperti sisik.
b.         Batangnya bercabang, berklorofil, dan sudah memiliki pembuluh    pengangkut   untuk mengangkut air  dan garam  mineral.
c.         Sporangium dibentuk di ketiak ruas batang.
d.         Gametofit tersusun dari sel-sel yang tidak berklorofil.
B.            Ekologi
1.             Sphenopsida
Paku ekor kuda tumbuh di tempat-tempat basah yang letaknya sedikit tinggi dari permukaan air. Pada masa lalu, kira-kira pada zaman Karbonifer, paku ekor kuda purba dan kerabatnya (Calamites, dari divisio yang sama, sekarang sudah punah) mendominasi hutan-hutan di bumi. Beberapa spesies dapat tumbuh sangat besar, mencapai 30 m, seperti ditunjukkan pada fosil-fosil yang ditemukan pada deposit batu bara. Batu bara dianggap sebagai pengerasan sisa-sisa serasah dari hutan purba ini.
Sphenopsida tumbuh melimpah pada masa Karboniferus, dengan ukuran yang besar dan tingginya mencapai 15 m. Sphenopsida merupakan pembentuk endapan batubara. Sphenopsida yang dapat bertahan hidup di bumi hingga saat ini hanya sekitar 25 spesies. Pada umumnya, Sphenopsida berasal dari genus Equisetum (sekitar 15 spesies), dengan ukuran tubuh (tinggi) rata-rata 1 m, tetapi ada pula yang mencapai 4,5 m. Sphenopsida tumbuh di tepian sungai yang lembap dan daerah subtropis belahan bumi utara.
Paku ekor kuda menyukai tanah yang basah, baik berpasir maupun berlempung, beberapa bahkan tumbuh di air (batang yang berongga membantu adaptasi pada lingkungan ini). E.arvense dapat tumbuh menjadi gulma di ladang karena rimpangnya yang sangat dalam dan menyebar luas di tanah. Herbisida pun sering tidak berhasil mematikannya. Di Indonesia, rumput betung (E. debile) digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.
2.      Psilopsida
Jenis paku yang termasuk dengan paku purba (psilopsida) adalah Rhynia (paku tidak berdaun) yang telah memfosil. Sedangkan yang masih ada dibumi adalah Tmesipteris ditemukan di kepulauan pasifik dan Psilotum tumbuh daerah tropus dan subtropis.
Psilotum banyak terdapat di Amerika Utara dan Karibia. Serta sepanjang teluk dan pantai Antlantik Utara sejauh Karolina Utara. Psitolum juga ditemukan di Asia yang beriklim tropis dan pulau-pulau di Pasifik.  Tmesipteris tumbuh di Kaledonia Baru dan di daerah yang berdekatan di Pasifik Selatan, termasuk Australia dan Kaledonia Baru.
C.           Reproduksi
1.             Sphenopsida
Dikenal sebagai paku ekor kuda dengan sporofit yang cukup mencolok. Gametofitnya berkembang dari spora berukuran sangat kecil, dapat berfotosintesis dan hidup secara bebas. Spora haploid dihasilkan di dalam sporangium secara meiosis.
Spora yang dihasilkan paku ekor kuda termasuk paku peralihan (jenis tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang sama) meskipun spora yang lebih kecil pada E. arvense tumbuh menjadi protalium jantan. Spora keluar dari sporangium yang tersusun pada strobilus. Sporanya berbeda dengan spora paku-pakuan karena memiliki empat "rambut" yang disebut elater. Elater berfungsi sebagai pegas untuk membantu pemencaran spora.
Gametofit ekor kuda bersifat thalloid (serupa thallus) dan tidak memiliki klorofil, sehingga kehidupannya tergantung pada asosiasi dengan cendawan tanah dalam bentuk mikoriza. Ukurannya kecil sehingga biasanya diamati dengan mikroskop. Bentuknya tidak menyerupai lembaran seperti pada paku sejati  melainkan menyerupai tangkai memanjang, menghasilkan anteridium dan arkegonium. Gametofit paku ekor kuda berukuran kecil (hanya beberapa milimeter) dan mengandung klorofil sehingga dapat berfotosintesis. Gametofit ada yang menghasilkan alat kelamin jantan (anteridium), dan ada juga menghasilkan alat kelamin betina (arkegonium). Gametofit jantan akan tumbuh dari spora jantan, sedangkan betina akan tumbuh dari spora betina
2.             Psilopsida
Paku purba (Psilopsida) mempunyai struktur tubuh yang sederhana, dengan ukuran tinggi sekitar 30 cm -1 m. Sporofit (2n), umumnya tidak memiliki daun dan akar sejati, namun memiliki rizom yang disekelilingnya terdapat rizoid. Daun paku purba (psilopsida) memiliki ukuran kecil (mikrofil) yang berbentuk sisik. Sedangkan batang paku purba (psilopsida) bercabang-cabang dikotomus, berkrolorofil, dan sudah memiliki sistem vaskuler (pembuluh) dalam mengangkut air dan garam mineral. Sporangium dibentuk di ketiak ruas batang. Sporangium menghasilkan satu dari jenis pora yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama (homospora). Dari gametofit (n) tersusun atas se-sel yang tidak memiliki klorofil sehingga pada zat organik didapatkan dari simbiosis dengan jamur.
Reproduksi tumbuhan ini dapat secara aseksual (vegetatif), yakni dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi secara seksual (generative) melalui pembentukan sel kelamin jantan dan betina oleh alat-alat kelamin (gametogonium). Gametogonium jantan (anteredium) menghasilkan spermatozoid dangan metogonium betina menghasilkan sel telur (ovum). Seperti halnya tumbuhan lumut, tumbuhan paku mengalami metagenesis (pergiliran keturunan. Tumbuhan paku mengalami metagenesis atau pergiliran keturunan antara generasi sporofit dan generasi gametofit.
a.      Generasi Saprofit
Merupakan tumbuhan paku itu sendiri yang dapat menghasilkan spora. Spora dihasilkan oleh struktur daun khusus yang disebut sporofil. Spora tersebut mudah menyebar diterbang angin, dan sporra n yang jatuh ditempat yang sesuaiakan tumbuh menjadi tumbuhan baru yaitu berupa protalium.
b.      Generasi Gametofit
Merupakan tumbuhan penghasil gamet. Generasi gametofit ditandai dengan adanya protalium. Yaitu tumbuhan paku baru yang berbentuk seperti jantung, berwarna hijau, dan melekat pasda substrat dengan rizoisnya. Generasi gametofit tidak berlangsung lama karena biasanya protaliumnya berukuran kecil dan tidak berumur panjang. Di dalam protalium terdapat suatu gametangium sehingga dapat membentuk anteridium yaitu alat kelamin jantan yang akan menghasilkan sperma, dan arkegonium yaitu alat kelamin betina yang akan menghasilkan sel telur. Jika terjadi pertemuan antara sperma dan sel telur, maka akan terbentuk zigot dan akan tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.






D.           Peranan dan Klasifikasi
1.      Peranan
a.      Sphenopsida
Secara umum tumbuhan paku ini biasa dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Batang paku ekor kuda  Equisetum debile mengandung zat kersik dan abunya dapat dijadikan sebagai penggosok untuk mencuci bahan dari gelas, batang paku ini juga dapat dijadikan sebagai bahan obat-obatan selain itu di Indonesia rumput betung ini digunakan sebagai sikat untuk mencuci dan campuran obat.
 Jenis tumbuhan paku yang dapat dimanfaatkan yaitu semanggi (Marsilea crenata) dimakan sebagai sayur, paku rane (Selaginella plana) sebagai obat untuk menyembuhkan luka, Paku sawah (Azolla pinnata) sebagai pupuk hijau tanaman padi di sawah, suplir (Adiantum cuneatum) dan paku rusa (Platycerium bifurcatum) sebagai tanaman hias.
b.      Psilopsida
Begitu pula dengan paku purba yang bisa dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Jenis tumbuhan paku yang dimanfaatkan yaitu Rhynia sp. dan Psilotum nudum yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias.

2.       Klasifikasi
a.      Sphenopsida
Semua warga sphenopsida yang masih hidup diklasifikasikan ke dalam satu genus yaitu Equisetum, yang biasa disebut  paku ekor kuda. Beberapa spesies umumnya dijumpai di mana-mana.
Sphenopsida yang dapat bertahan hidup di bumi hingga saat ini hanya sekitar 25 spesies. Pada umumnya, Sphenopsida berasal dari genus Equisetum (sekitar 15 spesies), dengan ukuran tubuh (tinggi) rata-rata 1 m, tetapi ada pula yang mencapai 4,5 m. Sphenopsida tumbuh di tepian sungai yang lembap dan daerah subtropis belahan bumi utara. Contoh Sphenopsida antara lain Equisetum ramosissimum, Equisetum arvense dan Calamites (sudah punah).
b.      Psilopsida
Subdivisi Psilopsida merupakan jenis tumbuhan paku sederhana dan hanya memiliki dua genus yang hidup tersebar luas di daerah tropik dan subtropik. Termasuk tumbuhan paku homospora dan sudah hampir punah. Pada generasi sporofit, jenis tumbuhan paku ini mempunyai ranting yang bercabang-cabang dan tidak memiliki akar dan daun. Sebagai pengganti akar, jenis tumbuhan paku ini memiliki akar yang diselubungi rambut-rambut kecil yang disebut rizoid dan belum memiliki jaringan pengangkut. Contohnya adalah Psilotum nudum.
Psilopsida mencakup dua kelompok atau ordo. Anggota salah satu di antaranya Psilophytales sudah punah, sedangkan Psilotales masih ada. Kelompok Psilopsida merupakan kelompok kecil, pada umumnya yang dikenal adalah dua genus yaitu  Psilotum dan Tmesipteris yang keduanya tidak memiliki banyak spesies. Psilotum banyak terdapat di Amerika Utara dan Karibia, serta sepanjang teluk dan pantai Atlantik ke utara sejauh Karolina Utara. Psilotum juga ditemukan di daerah Asia yang beriklim tropis dan pulau-pulau di Pasifik. Tmesipteris tumbuh di Kaledonia Baru dan di daerah yang berdekatan di Pasifik Selatan, termasuk Australia, dan Kaledonia Baru.

1 komentar :