Sabtu, 09 April 2016

Belajar dari Kupu-Kupu



          Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh proses berprogres. Seperti kupu-kupu cantik nan manis, sebagian dari kita hanya peduli pada keindahanya, padahal dibalik semua itu ada proses panjang yang harus dilalui dengan penuh perjuangan.
          Selama hidupnya, kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna. Apa sih metamorfosis? Yaitu perubahan morfologi tubuh yang dialami oleh kelas insekta dari mulai telur sampai dewasa. Kenapa disebut metamorfosis sempurna? Karena terdiri atas empat tahap, telur > ulat > kepompong > kupu-kupu. Yahh.. udah pada  tahu ya? Yaudah deh kan cuma ngingetin.
          Telur kupu-kupu biasanya nempel di dedaunan, yap, fase awal kehidupannya berawal bisa dibilang bergantung banget sama daun tersebut. Ketahanannya dalam menjalani hidup mulai diuji. Tak cukup sampai disitu saja, kemudian ia harus berusaha menetas. Mungkin baru saja ia merasa nyaman ternaung dalam telur tersebut, namun kini ia harus keluar.
          Ulat, telur kemudian bermetamorfosa menjadi ulat, yang banyak dibenci karena tampak menjijikan, tersisihkan, dianggap sebelah mata, ahh jarang sekali yang mau memedulikannya. Meski diperlakukan seperti itu, adakah ulat patah arang lalu berpikir untuk mengakhiri hidupnya, jawabannya tidak, alih-alih menyerah pada keadaan, Ia kembali bermetamorfosa.
          Kepompong, sang ulat yang dianggap menjijikan tersebut mulai merenungkan perjalanan hidupnya, Ia bermetamorfosa menjadi kepompong. Selama beberapa saat Ia tak lagi makan minum, berpuasa, hanya mengandalkan sari makanan yang didapat selama menjadi ulat. Dengan sabar dan penuh keikhlasan, Ia jalani hari demi hari, mungkin sambil bertasbih pada Ilahi.
          Kupu-Kupu, setelah semua hal yang telah dilewati, sayap-sayap kekuatan itu-pun tumbuh, tampak serasi menghiasi dirinya yang baru, tak kenal lelah bermetamorfosa kembali menjadi lebih baik. Awalnya, kedua sayapnya begitu rapuh, jangankan untuk bisa membawanya terbang, dikepakkan saja susah, Ah, sekali lagi, Ia tak patah arang, tetap berusaha, jika Ia memutuskan untuk berhenti pada saat itu, maka takkan ada kupu-kupu indah menghiasi hari cerah bumi.
          Buah dari kesabaran tanpa batas itu akhirnya dapat dipetik, manis, telur yang hanya bergantung pada dedaunan tersebut kini telah menjadi kupu-kupu dengan sayap yang cantik. Tak berhenti disitu, ternyata Ia masih ingin berbagi pada sesamanya, berbagi kasih Ilahi yang menaunginya, membantu penyerbukan bunga-bunga yang mekar.
          Kupu-Kupu hanya salah satu ciptaan Ilahi yang menawan hati. Yap, kupu-kupu saja terus bermetamorfosa menjadi lebih baik, kenapa kita sebagai manusia yang dibekali akal tidak demikian? Lets Change to be Better!

Tidak ada komentar :

Posting Komentar