Minggu, 17 April 2016

Bulan, Bintang dan Planet



Saat matahari kembali ke peraduan, langit biru mulai berarak, senja mulai beranjak, berganti pekatnya malam berbalut kesyahduan. Ketika langit malam cerah, gemintang betaburan, tampak tak beraturan namun justru itu yang membuatnya indah, menemani rembulan yang akan membulat, turut menghias langit malam. Nikmat Allah mana lagi yang patut kita dustakan?
Bagi mata awam, melihat pendaran cahaya yang disuguhkan langit pasti dianggap semuanya sama, bernama bintang. Karena biasanya, kita jauh lebih mementingkan keindahan yang disajikan daripada harus ambil pusing memikirkan nama objek atau berasal dari rasi bintang mana, hehe. Padahal, yang tampak bukan hanya ada bintang tapi juga beberapa planet di tata surya kita yang dapat teramati dan objek langit lainya. Perbedaan mendasar antara planet dan bintang adalah jika planet dapat bercahaya karena pantulan dari cahaya matahari, maka bintang dapat memancarkan cahayanya sendiri.
Selain itu, pendaran cahaya gemintang cenderung berkerlap-kerlip, karena jarak bintang dengan planet bumi sangat jauh bahkan bisa sampai bermilyar-milyar tahun cahaya. Saking jauhnya, maka cahaya yang sampai ke bumi menjadi lebih lemah di banding cahaya planet yang lebih dekat dengan bumi. Sebelum cahaya tersebut dapat kita lihat, terlebih dahulu harus menembus atmosfer bumi, sehingga cahaya bintang yang lemah akan mudah terganggu oleh turbulensi yang terjadi di atmosfer bumi, simpelnya sih cahanya bintang akan dengan mudah terbiaskan sehingga akan nampak berkerlap-kerlip.
Sedangkan, planet yang memang jaraknya lebih dekat dengan bumi, cahanya lebih kuat, sehingga akan lebih stabil meski terjadi turbulensi di atmosfer bumi. Oleh karena itu, cahaya planet akan cenderung tidak berkerlap-kerlip. Secara umum, beberapa planet yang dapat terlihat dengan mata telanjang (baca: tanpa bantuan alat seperti teleskop) ada empat yaitu Merkurius, Venus, Mars dan Jupiter.
Yang paling sering terlihat dan mudah diamati adalah venus, karena venus merupakan objek langit malam tercerah setelah bulan, biasanya muncul sesaat setelah matahari terbenam dan menjelang matahari terbit, karena itu kadang venus dijuluki bintang fajar atau bintang kejora, cielah, salut deh buat venus. Magnitudo (skala kecerahan, semakin kecil nilainya maka tingkat energi yang diterima kita di bumi semakin besar, artinya semakin kecil nilai maka cahaya yang tampak akan semakin jelas) venus dapat mencapai maksimal -4,6 yap cukup terang lah dilangit malam.
Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya kita, namun karena jaraknya yang lebih jauh dibanding venus maka cahayanya lebih redup tampak di bumi dengan magnitudo mencapai -2,94.  Untuk planet Mars, terlihat dengan ciri khasnya yaitu berwarna merah sehingga sering disebut bintang kemerahan dengan magnitudo dari +1,8 hingga -2,91. Terakhir ada planet Merkurius yang mana diameter planet ini lebih kecil dari bumi, sehingga cahaya yang terlihat lebih redup dibanding ketiga planet lainnya yaitu magnitudo berkisar +5,5 sampai -2.
Bulan? Oh ya, fenomena bulan yang lumayan masih membekas dipikiran saya adalah “Halo Bulan”, sekitar 2 bulan lalu, saya sempatkan untuk keluar rumah untuk sekedar melihat langit malam, pada saat itu ternyata langit malam tidak terlalu cerah, awan menutupi sebagian gemerlap bintang, namun bulan tampak bulat penuh, tengah purnama, cukup menghibur.
Bulan purnama tepat berada di atas tempat saya berdiri, cantik. Selain itu, ada hal yang tak biasanya yang saya lihat, sebuah cincin raksasa berwarna putih melingkar mengelilingi bulan yang ukurannya cukup kecil, pemandangan yang menarik.
Halo bulan sendiri terjadi saat awan tipis yang mengandung jutaan kristal es kecil menutupi sebagian besar langit, yang mana setiap kristal es bertindak sebagai lensa miniatur, cahaya bulan masuk kemudian dibiaskan, kristal es menghasilkan fokus cahaya ke dalam membentuk sebuah cincin yang kita sebut halo bulan.
Hal terpenting dari pengamatan langit malam adalah cuaca, ya tentunya cuaca haruslah cerah, juga langit bebas dari polusi cahaya. Apa itu polusi cahaya? Secara sederhana polusi cahaya dapat diartikan sebagai penggunaan cahaya buatan yang berlebihan. Polusi cahaya biasa terjadi di perkotaan di mana gemerlap cahaya merupakan bagian dari kehidupan malam penghuninya. Mulai dari lampu-lampu jalan, pusat perbelanjaan sampai gedung pencakar langit. Keadaan seperti ini tentu berdampak bagi pengamat langit.
Sederhanya, cahaya yang yang berlebihan dari kehidupan perkotaan akan berpendar sangat terang yang dapat menutupi cahaya bintang gemintang yang lebih redup, sehingga yang dapat tampak hanya bintang yang terang saja. Jadi, polusi cahaya dapat menyebabkan hilangnya sebagian pendaran gemintang di langit. Oleh karena itu, jika ingin melakukan pengamatan langit sebaiknya menjauhi hiruk pikuk perkotaan.
– Jadilah penikmat langit yang tetap membumi. Menghormati langit, Melindungi bumi –



   Happy sky gazing!
   an Amateur Astronomer –
(Suci Anadila Nurkaromah)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar