Senin, 04 April 2016

Serpihan Rindu





“Serpihan Rindu”


Based on True Story
Matahari telah sedikit bergeser ke arah barat, masih terik, terasa membakar kulit.  Tepat pada hamparan bumi di bawahnya, seperti biasa pada saat seperti ini dia dan teman karibnya mengais sisa-sisa panen bawang milik para saudagar Jawa itu. Baju kumal, keringat bercucuran, mata perih, sudah jadi makanan sehari-hari. Setelah bawang-bawang tersebut terkumpul, dengan riang dibawa pada tengkulak, menukarnya dengan rupiah yang tak seberapa. Demi bulir-bulir beras atau beberapa permen dia lakukan itu semua, yang mungkin anak lain tinggal merengek, menadah tangan pada orang tuanya, tidak demikian padanya.
Setiap harinya dia juga harus menimba ilmu. Sekolah? Ya, dia, anak laki-laki itu masih sekolah, berseragam putih biru. Meski kerap terlambat datang, karena jarak sekolah yang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tak menyurutkan niatnya untuk berangkat, meski terkadang karena keterlambatan itu dia harus menerima hukuman dari guru. Seakan dalam hatinya berkata “Hai peluh! jangan menurut pada keluh. Bolehlah bersahabat dengan lelah kemudian menjadi Lillah”
***
            Saat di sekolah. . .
“Umurmu berapa?” Tanya seseorang padanya.
“13 tahun kalau tidak salah” Jawabnya.
            “Ulang tahunmu kapan?” Tanya seseorang itu ingin memastikan.
            “Gak tahu, lupa, lagian gak pernah ngerayain ulang tahun” Ujarnya
Rasa penasaran mengundang tanya “Kenapa?”
“orang tuaku tak ada” jawabnya singkat sambil menundukan kepala.
Ah, sebenarnya seseorang itu tak ingin bertanya “kemana mereka?” tapi terlanjur terucap dengan seketika.
“Ayahku melaut di luar negeri sejak tahun lalu, Ibuku juga berada di Negara lain sejak Aku masih MI (setara SD)” Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu ternyata mengingatkannya pada luka yang terpendam dalam hatinya. Bukan masalah tidak merayakan ulang tahun, toh memang tak dirayakanpun tak apa. Terlihat jelas pada sorot matanya yang teduh itu, kerinduan yang mendalam, terpancar dari gurat wajanhnya ada ruang kosong dalam memorinya, kenangan dengan orang tuanya yang baru sedikit saja terisi.
***
            Udara dingin mulai menelisik kulit. Rembulan setengah bulat menggantung di langit, bersama gemintang yang berkerlap-kerlip. Usai mengaji di surau, Ia kembali ke rumahnya, langsung menuju kamarnya. Tadi saat mengaji disurau, ustadz menjelaskan tentang  berbakti pada orang tua. Berbagai pertanyaan sedari tadi berkelana liar dalam otaknya. “Aku merindu, teramat merindu, Yah, Bu, apa kalian mendengarnya?” Pedih bagi sesiapa saja yang mendengar. Tiga belas tahun, belum cukup baginya mengerti semua yang terjadi dalam hidupya.
            Tak terasa tetes air mata meluncur deras dari kedua sudut matanya. Wajar, hatinya terlampau sakit dengan segala kenyataan yang ada. Bukankah air mata diciptakan Allah bukan hanya untuk perempuan, laki-laki juga punya hak yang sama. Dia menangis, membasuh luka yang kian terasa nanar. Terisak, sendiri, sesekali menyeka air mata, kembali terisak, berteman beberapa kenangan yang masih tersimpan di memori otaknya.
***
            “Sudah yah, Aku takut” katanya sambil sedikit meringis.
“Anak Ayah ini gimana, belum juga ayah ayunkan, kok sudah takut” Ujar ayahnya sambil menyunggingkan senyum.
            “Iya yah, tapi Aku takut” Rengeknya
“Terkadang dalam kehidupan kita akan menghadapi rasa takut, tapi lebih takutlah pada Allah, Nak. Rajinlah menuntut ilmu jangan tinggalkan shalat dan ngaji ” Ayah anak lelaki itu memberikan petuah kehidupan.
Tiba-tiba, Ibunya berada tepat di samping anak lelaki itu, lalu berucap “memang kita berada dalam kejauhan, tapi tak berarti meninggalkan”
Senja itu begitu mengasyikan, sesekali kereta melewati lintasan rel kereta di seberang ayunan. Ayah terkadang bersama ibunya memang kerap kali mengajak anak laki-laki itu menghabiskan senja selepas Ayahnya bekerja serabutan. Sepulangnya langsung pergi ke surau desa, shalat maghrib berjamaah, kemudian anak lelaki yang teramat dicintai Ayah dan Ibunya tersebut mengaji bersama teman-temannya di surau.
Tubuh anak laki-laki itu terperanjat, kaget. Ahh, hanya mimpi, sembab menjadi sisa tangis semalam. Pagi telah menyapa kembali, hari baru. Mungkin mimpi semalam sedikit menjadi penawar rindu.
“Ayah, sejauh apapun kau mengelilingi dunia dengan kapalmu yang kokoh, kau masih punya tempat kembali, di sini. Ibu, sekeren apapun duniamu sekarang nun jauh dari pandangan mataku, kau masih punya tempat kembali, di sini.  Kembali, ku mohon, kalian tak kan pernah lupa jalan pulang kan? Apa harus, Aku melambai, berbalik menggandeng rindu. Barangkali pertemuan cemburu lalu kembali mendekat, mendekatkan kita kembali” rintihnya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar