Sabtu, 21 Mei 2016

ETNOZOOLOGI: SITUS PETILASAN SUNAN KALIJAGA




Situs Taman Kera dan Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon ini diperkirakan sudah ada mulai abad ke-17. Di Jalan Pramuka berjarak sekitar 1 km kearah barat daya Terminal Bus Harjamukti Kota Cirebon pada sisi barat Kali Sipadu terdapat Petilasan Sunan Kalijaga. Lokasi ini sangat mudah dicapai dengan berbagai kendaraan, ± 5 km dari pusat kota Cirebon dengan waktu tempuh ± 20 menit. Lokasi yang berada di tengah pemukiman penduduk Kampung Kalijaga, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti ini tepatnya berada pada koordinat 06º 44' 891" Lintang Selatan dan 108º 33' 083" Bujur Timur. 
Kawasan komplek Petilasan Sunan Kaligaga luasnya ± 4 hektar. Kawasan ini dilalui dua aliran sungai, yang masing-masing mempunyai dua sampai tiga nama yang berbeda. Sungai dimaksud adalah Kali Simandung dan Kali Mesjid, yang alirannya kemudian bertemu di Kali Cawang. Kali ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk mandi dan cuci pakaian, dahulu kali ini juga dapat digunakan untuk wudlu. Pada kawasan itu terdapat bangunan patilasan, sumur kramat, mesjid keramat, makam dan selebihnya berupa semacam hutan lindung yang dihuni kera.
Bangunan Petilasan Kalijaga oleh penduduk setempat disebut Pesarean (dari kata Jawa yang berarti tempat beristirahat). Bangunan ini berdenah bentuk huruf L terdiri tiga ruangan. Ruangan pertama merupakan tempat bagi para penziarah untuk memanjatkan doa, yang dapat dimasuki melalui pintu pertama yang disebut  Pintu Bacem. Ruang kedua merupakan tempat beberapa makam kuno, dan ruangan ketiga merupakan bekas tempat tidur Sunan Kalijaga yang ditutup dengan kelambu. 
Pada sebelah barat bangunan terdapat makam pengikut dan kerabat Sunan Kalijaga. Bagian ini dibatasi dengan dengan kuta kosod (susunan bata merah) setinggi ± 120 cm dan tebal ± 90 cm. Menurut cerita rakyat, ketika Cirebon “dikuasai” VOC, lokasi ini pernah dijadikan tempat pertemuan para panglima perang Kesultanan Kanoman, Kasepuhan, dan Mataram untuk menyusun strategi melawan mereka.
Hutan lindung di kawasan petilasan Sunan Kalijaga, ditumbuhi beberapa jenis pohon besar, seperti bebang, repilang, rengas, dan albasia. Kerimbunan pepohonan ini mendominasi pemandangan. Pada rindangnya pepohonan tersebut akan tampak kera-kera yang saling bergelantungan dan berkejaran. Pada pagi hari mereka turun, dan duduk berbaris di tepi kali, ada juga diantaranya yang tampak mencari kutu. Mereka juga akan turun, jika ada pengunjung, terutama yang terlihat membawa makanan. Pada saat ini populasi mereka sekitar 99 ekor. Hutan lindung ini disebut Taman Kera Kalijaga. Adapun klasifikasi monyet ekor panjang adalah sebagai berikut:
Kingdom           : Animalia
Phylum              : Chordata
Sub phylum       : Vertebrata
Class                  : Mamalia
Ordo                  : Primata
Sub ordo            : Anthropoidae
Family               : Cerchopithecidae
Genus                : Macaca
Spesies               : Macaca fascicularis
Salah satu keistimewaan kawasan ini juga memiliki beberapa legenda, di antaranya legenda Si Lorong yang berhubungan dengan pembuatan kain tenun, legenda satu orang raja dengan 11 punggawa, legenda si Mandung (Syekh Khotim), legenda kera dan Legenda Jimat Layang Kalimursadat.
Menurut cerita tutur, Sunan Kalijaga pernah menetap beberapa kali di Cirebon cukup lama dalam kurun waktu yang berbeda. Kedatangannya yang pertama bertujuan untuk menimba ilmu. Kedatangan yang kedua dalam rangka melaksanakan tugas sebagai wali. Kali terakhir Sunan Kalijaga menetap di Cirebon dalam rangka merintis pembangunan Kerajaan Cirebon.
Monyet ekor panjang tergolong monyet kecil yang berwarna coklat dengan bagian perut lebih muda dan disertai rambut keputih-putihan yang jelas pada bagian muka. Dalam perkembangannya rambut yang tumbuh pada muka tersebut berbeda-beda antara individu satu dengan individu lainnya.
Monyet Ekor Panjang hidup berkelompok dengan anggota antara 5 hingga 40-an ekor lebih. Dalam satu kelompok terdapat 2-5 pejantan dengan jumlah betina 2-5 kali lipatnya dengan salah satu monyet jantan sebagai pemimpin kelompok.
Seekor pejantan biasanya melakukan perkawinan dengan beberapa betina sekaligus. Monyet ini termasuk hewan omnivora. Makanannya bervariasi mulai dari buah, daun, bunga, umbi, jamur, serangga, siput, rumput muda, bahkan kepiting. Meskipun mayoritas yang dikonsumsi adalah buah-buahan.
Menurut keterangan Bang Ucok yang merupakan seorang penanggungjawab dari situs  Petilasan Sunan Kalijaga setelah kami melakukan wawancara, beliau memaparkan bahwa kejadian ini bermula pada zaman Sunan Kalijaga masih hidup.
Diceritakan pada saat itu Sunan Kalijaga membangun pesantren dan menyebarkan dakwah Islam di daerah tersebut. Semua berjalan dengan baik, sampai pada suatu hari, tepatnya hari Jum’at. Seperti biasanya, Sunan Kalijaga dan semua santri laki-laki berkumpul untuk melakukan kewajiban melakukan shalat Jum’at.Tetapi di dekat sungai sekitar sepuluh orang santri laki-laki dan perempuan malah masih saja asyik memancing. Pada saat itu sedang musim kering, tapi ikan di dekat sungai tersebut cukup melimpah Ada seseorang menyerupai seorang kakek tua, mengingatkan mereka agar menghentikan aktivitas tersebut dan yang laki-laki segera bergegas menuju Masjid.
Namun, mereka malah ngeyel dan mengacuhkan nasihat kakek tua tersebut, lalu berkata kurang lebih seperti ini “Ah, dasar kakek tua, apa yang kamu tahu sampai menasihati kami, ikan di sini masih banyak yang harus dipancing”. Mereka terus saja memancing. Sampai berulang kali diingatkan mereka tetap saja mengacuhkannya. Hingga dikali ketiga mereka tetap tidak mau meninggalkan pancingan mereka, hingga akhirnya guru tersebut melaporkan kepada Sunan Kalijga, lalu beliau berucap “seseorang yang tidak mau beribah itu seperti monyet”. Kawanan santri tersebut kemudian menjadi monyet berjenis monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan anak cucunya tersebut menghuni hutan di situs petilasan Sunan Kalijaga tersebut hingga sekarang.
Anehnya, monyet ekor panjang di situs petilasan Sunan Kalijaga semenjak berjumlah 99 tidak pernah berkurang ataupun lebih, setiap salah seorang dari mereka lahir, maka akan ada yang menghilang tanpa jejak, karena jika dikatakan meninggal seharusnya terlihat ada bangkai atau kuburannya. Ketika dikonfirmasi mengapa kejadian tersebut terjadi, narasumber menjawab bahwa hal tersebut dikarenakan monyet-monyet tersebut keramat dan ada yang menjaganya.
Uniknya monyet-monyet tersebut terbagi menjadi tiga kubu yang tidak saling berbaur, tiap kubu memiliki pemimpin masing-masing, kebetulan pada saat itu yang sedang berada di pelataran masjid adalah kubu yang dipimpin oleh monyet yang sudah cukup sepuh yang diberi nama si Bule. Pada saat diamati tampak Si Bule bersifat kepemimpinan, mengayomi dan penuh wibawa. Jika ada kubu dari kelompok lain yang mendekat maka akan terjadi perkelahian, yang penyebabnya masih tidak diketahui sampai sekarang.
Monyet-monyet ekor panjang di situs petilasan Sunan Kalijaga Cirebon Primata mempunyai perilaku lengkap yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anggota kelompok lain. Perilaku komunikasi ini berkembang karena primata adalah hewan sosial. Monyet ekor panjang ini aktif secara teratur dari fajar sampai petang (Diurnal). Aktivitas monyet lebih banyak dilakukan di atas permukaan tanah (semi terrestrial) dibandingkan di atas pohon. Monyet ekor panjang tidur di atas pohon secara berpindah-pindah untuk menghindar dari pemangsa.
Monyet ekor panjang bersifat sosial dan hidup dalam kelompok yang terdiri atas banyak jantan dan banyak betina (multi male-multi female). Dalam satu kelompok monyet ekor panjang terdiri atas tiga puluhan individu. Monyet ekor panjang di lingkungan alaminya bersifat frugivora dengan makanan utamanya berupa buah. Kriteria buah yang dipilih oleh monyet tersebut biasanya dilihat berdasarkan warna, bau, berat buah, dan kandungan nutrisi. Selain buah, jenis makanan yang biasa dikonsumsi monyet ekor panjang adalah daun, umbi, bunga biji, dan serangga.
Ekornya yang panjang hingga melebihi panjang tubuhnya, dimanfaatkan monyet ekor panjang sebagai alat keseimbangan serta mendukung aktivitas pada saat mencari makan di cabang pohon yang kecil.
Seiring dengan berkembangnya zaman, dan meningkatnya kebutuhan lahan untuk tempat tinggal, membuat situs tersebut berdekatan dengan lingkungan pemukiman masyarakat. Mau tidak mau masyarakat akan bersinggungan langsung dengan monyet-monyet tersebut. Keberadaan monyet ekor panjang di hutang lindung situs petilasan Sunan Kalijaga sebenarnya tidak terlalu mengganggu. Namun, terkadang saat persediaan makanan dalam hutan tidak memenuhi, maka para kawanan monyet akan mencari makanan ke masyarakat.
Mereka biasanya mencari makanan di tempat sampah bahkan sampai memongkar genting lalu masuk ke dalam rumah. Namun, karena dikeramatkan, maka tidak ada yang berani mengganggu kawanan monyet tersebut. Masyarakat yang diwawancarai mempercayai bahwa jika berani menganggu monyet-monyet tersebut akan mendapat kesialan atau kualat. Bahkan masyarkatpun percaya jika ada seseorang yang berani membunuh monyet-monyet itu, maka orang itu akan meninggal.
Peran pemerintah bagi keberadaan situs petilasan Sunan Kalijaga sampai saat kami melakukan observasi memang ada, namun masih sangat kurang untuk memenuhi pemeliharaan dan perbaikan fasilitas yang ada. Padahal menurut kami, situs ini merupakan kearifan lokal Kota Cirebon yang harus dilestrarikan dan dijaga dengan baik. Karena pemerintah memiliki peranan yang cukup vital di samping peran masyarakat sekitar yang memang masih sangat menjaga kearifan lokal situs petilasan Sunan Kalijaga.
Kami sangat mengharapkan pemerintah dapat memberi sumbangsi lebih bagi salah satu warisan budaya bangsa ini. Meski situs ini dikeramatkan yang terkesan horor dan menyeramkan menjadikan tidak ada orang yang mau mengganggu monyet-monyet tersebut tersebut habitat. Jadi, sisi positif dengan menjaga situs tersebut mencakup dua hal, yaitu menjaga keberlangsungan spesies monyet ekor panjang juga menjaga hutan lindung.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar