Sabtu, 30 Juli 2016

Sampai Bertemu, Tanpa Kata Tunggu



Dulu, meski terpisah wilayah yang berbeda, selalu ada saat kita menatap langit yang sama, di mana kau menyempatkan sekedar menyambung sapa, bertanya kabar, memintal cengkrama berenda canda.
Kini, bersama deretan rindu dalam bait-bait bisu. Kumencoba mencairkan suasana di bawah bentangan awan. Semenjak kau mengganti nomor ponselmu, mungkin ejaan ‘Aku merindumu’ hanya terbang sebagai sinyal-sinyal analog yang tak kunjung diterjemahkan.
Seiring rembulan menyabit kemudian membulat, yang entah sudah keberapa kali. Aku belajar menunggu, meski tanpa kepastian. Cita yang pernah terucap tergantung pada embun yang terbias fajar.
Diam adalah pilihanmu. Seperti lagu yang meninggalkan irama, pergi tanpa jejak, tak bersuara, sunyi. Aku belajar menunggu, penjelasanmu.
Diammu menjelma senjata. Menyayat sukma, Melubangi kepercayaan. Aku belajar menunggu, sesetia siluet jingga pada senja, tapi ada yang aku lupakan, yaitu tentang ke-ikhlas-an senja melepas hari, meski berat hati.
Ternyata (bukan) hanya perihal belajar menunggu. Aku harus mengerti bagaimana cara berprasangka baik, bagaimana cara melepas, bagaimana cara ikhlas.
Kau boleh saja membungkam harapku, tapi aku masih punya deretan resah penuh tinta, tertulis abadi pada sajak-sajak rindu, terangkum dalam jutaan kata membentuk puzzle rapat makna.
Aku selalu yakin kau selalu menggenggam janji. Sahabat, suatu saat ketika kau sempat, berbincanglah dengan sajakku, lalu, ceritakanlah pada semesta, jika mereka menyangka kisah kita adalah kisah sedih, kabarkanlah dengan sebaris senyum, kisah ini belumlah usai.
Sampai bertemu (lagi), Tanpa Kata Tunggu.
Sahabatmu,
di
Ruang Rindu

Tidak ada komentar :

Posting Komentar