Sabtu, 06 Agustus 2016

Muara Pengharapan



Sepotonng kisah ini, tentang dia yang merasakan kehilangan dan pahitnya pengharapan. Dia yang telah membangun keberanian menemui kenangan.
-meski rapuh-
Apalah ini, dia selalu berharap sekedar ingin mengucap ‘selamat tinggal’ pada seseorang yang datang dan pergi tanpa pamit. Mengatakan padanya ‘jangan lupakan cerita kita pernah ada’ pada seseorang yang entah pernah menganggapnya ada atau tidak, jangan-jangan dia hanya dianggap sekelebat angin, mengisi sela hari yang berbilang banyak dihidupnya. Semua pernah ada, iya, pernah.
Waktu boleh saja pergi menggaet seseorang itu pergi, tapi tidak dengan kenangan bersamanya. Miris. Tapi dia memberanikan diri, menemui kenangan, untuk berdamai.
Akhirnya dia memutuskan pergi ke suatu tempat. Sebuah taman yang menyimpan cerita sepasang insan, –mereka-, yang meninggalkan dan ditinggalkan. Ada kenangan pada ayunan yang kini sering berdecit, rumput ilalang yang berserakan tak terawat dan sepasang pesawat kertas tertulis cita-cita –cinta- yang tertempel rapih di dalam rumah pohon. Serta hujan, di mana mereka pernah merenda tawa di bawah rinainya.
Tampias rinai air langit membasuh bumi. Kuasa langit menghujamkan rinai itu menuju telaga kesedihan, dihatinya. Tepat setelah ayunan tua itu berhenti berdecit. Engselnya sudah lama tidak diberi oli. Persis setelah mengantar kenangan melewati pintu sukma, yang juga berdecit, menggumam resah. Mendesak otak menghambat kinerja dopamine. Apa kabar pesawat-pesawat itu? entahlah diapun sudah tak peduli lagi. Hanya ilalang yang riang di antara sendu, senang bermandikan riuh air langit.
Memandang kesemuanya seperti kode, membuka kenangan-kenangan beberapa tahun silam, sebelum seseorang itu meninggalkannya, menghilang.
Kehilangan, mencipta ruang kosong di seberang ramainya gantungan ingatan. Setelah seseorang itu pergi, barangkali memang sengaja pergi, dia menjadi tidak suka hujan, beralasan memang. Setelah sekian lama, baru saja dia ingin berdamai dengan dirinya sendiri, membujuk hati. Tega sekali, langit dan bumi bersekongkol mendatangkan semuanya seketika, pikirnya merutuki. Buyar, pertahanan yang telah dibangun runtuh sempurna.
Penantian ternyata tak seayik itu, dia baru saja menyadarinya. Bukan karena perasaan  itu sendiri, tapi, lebih tersebab pengharapan itu sendiri, penantian itu sendiri bermuara pada seseorang itu –manusia-. Manusia memang bisa –mudah saja- menjanjikan, gampang pula berbalik, menganggap semua seakan tidak pernah ada. Apalah ini, seseorang itu bahkan sama sekali tidak menjanjikan apapun. Dia masih saja berharap? Pengharapan macam apa ini.
Sesuatu yang kurang tepat di sini adalah muara dari itu semua, ya, manusia. Pengharapan itu tidak bermuara pada Penguasa Langit dan Bumi, Pemilik hatinya dan seseorang itu. Ada yang dia lupa, bahwa jika semua sudah seharusnsya bermuara pada-Nya, dilakukan sesuai kehendak-Nya.

Sepenggal episode kehidupan,
Di bawah rinai hujan

Tidak ada komentar :

Posting Komentar