Rabu, 27 Desember 2017

Elegi : Jangan Pernah Lupa Lagi


Aku tidak tahu harus memilih jalan mana. Aku sendiri tak begitu paham apakah ada pilihan untuk kuputuskan. Seperti hanya tersedia satu hal yang memang harus aku hadapi. Aku merasa telah lelah dengan apa yang tengah kuhadapi. Lelahku terasa berada di ujung jalan buntu. Maju tak bisa. Mundur sudah terlalu jauh.
Putus pada asa.
Lelah pada keadaan.
Bercerita pada embun pagi. Bercerita pada terik matahari. Bercerita pada senja. Bercerita pada kunang-kunang di tepi malam.
Mereka berbicara perihal hidup dan harga kehidupan. Semua ucapan mereka tak begitu logis bagi otakku yang kalut. Bak omong kosong tiada punya arti.
Hatiku sedang menuju ajal. Berada pada batas waktu. Hanya menunggu saat lupa kedua itu tiba.
---
Aku melihat aku di masa depan. Ia memperkenalkan diri dengan ceria. Dengan nama dan wajah sama namun suasana hati yang jauh berbeda. Ia mengajaku bercengkrama tentang ini dan itu. Beberapa saat kemudian, ia pun pamit dengan kalimat-kalimat terakhir yang memesona sukma.
“Kamu bisa menemuiku lagi, nanti, beberapa saat lagi, asalkan kamu lupakan keinginannmu untuk kembali lupa. Tebuslah harga hidup melalui penghargaan untuk setiap kasih yang terus kamu terima. Terimalah pesan dari surga. Bahwa kamu harus mengingat pada apa yang kamu lupa untuk pertama kalinya. Bahwa, Kamu punya iman 
…. Segera, temukanlah aku saat kamu berkaca di depan cermin”.
---

Aku terbangun,


---

Tidak ada komentar :

Posting Komentar