Rabu, 13 Desember 2017

Resensi Buku "The Divine Message of The DNA (Tuhan dalam Gen Kita)" Karya Kazuo Murakami, Ph.D.

IDENTITAS BUKU

Judul                     : The Divine Message of The DNA (Tuhan dalam Gen Kita)
Penulis                  : Kazuo Murakami, Ph.D.
Penerjemah           : Winny Prasetyowati
Penerbit                 : Mizan Pustaka
Tahun Terbit         : Cetakan II, Juni 2007
Jumlah Halaman  : 217 Halaman
 

Gambar 1. Cover Buku The Divine Message of The DNA (Tuhan dalam Gen Kita).

Penelitian dalam ilmu tentang tentang kehidupan terus berkembang dengan kecepatan yang mengagumkan,  bahkan melebihi ekspektasi mereka yang bekerja dalam bidang ini. Seluruh kode genom manusia baru berhasil dipecahkan. Walaupun pada awalnya penulis buku ini percaya bahwa dengan menafsirkan kode genetik itu akan memecahkan misteri kehidupan, semakin lama semakin jelas bahwa hidup tidaklah sesederhana itu. Karakteristik genetik yah diturunkan dari generasai ke generasi selama ini dianggap bersifat tetap dan niscaya.
Secara pribadi, penulis melihat bahawa baik ilmu pengetahuan dan agama berasal dari sebuah sumber yang sama, dan oleh karenanya beliau mencari cara untuk menyatukannya. Beliau memiliki tiga saran, yaitu (1) miliki nilai yang mulia, (2) hidup dengan rasa terima kasih, dan (3) berpikir positif. Melalui segala pengalaman penulis mempelajari gen, penulis menyadari bahwa jika dapat belajar untuk hidup dengan gen-gen yang baik kita dinyalakan, kita akan dapat mengerahkan potensi yang jauh lebih besar daripada biasanya.
Buku ini menawarkan perspektif baru: pikiran dapat mengaktifkan gen-gen positif dan menonaktifkan gen-gen negatif. Buku ini memaparkan banyak rahasia tentang hubungan pikiran dengan gen kita. Berdasarkan temuan-temuan ini, dan fakta bahwa kode genetik terlalu kompleks untuk terbentuk secara kebetulan, Kazuo Murakami, Ph.D. berkesimpulan bahwa ada kekuatan yang lebih besar di alam semesta ini. Ia menyebutnya sebagai “Sang Agung”. Ia yakin bahwa segala kehidupan datang dari sumber itu – sang asal mula, atau yang kita sebut sebagai Tuhan.
Meski merupakan buku terjemahan, namun bagi saya bahasa yang digunakan dapat dimengerti dan sesuai dengan apa yang dikehendaki penulis. Seperti yang telah dipaparkan sebelumya, konten buku ini didasarkan pada pengalaman pribadi penulis, jadi saat membacanya kita akan seperti dibawa pada situasi dan kondisi saat kejadian, meski kita tentu berada di ruang dan waktu yang berbeda.
Bagi pembaca yang tidak berlatar belakang di bidang sains, mungkin akan merasa asing dengan banyak istilah biologi, seperti gen, genom, enzim renin, dan rekayasa genetika. Tapi, tenang saja, penulis buku ini begitu apik dalam membahas istilah-istilah tersebut secara sederhana, sehingga dapat dipahami oleh semua pembaca dengan berbagai macam latar belakang. Meski bagi saya masih ada bagian yang terlalu teknis sehingga mungkin masih membingungkan bagi sebagian pembaca yang awam terhadap sains,  seperti pemaparan produksi protein manusia dari bakteri E. coli.
Pengalaman ilmiah penulis yang mengantarkannya pada keyakinan bahwa proses genetik dalam setiap makhluk hidup yang sangat kompleks tersebut bukanlah sebuah kebetulan, tetapi ada yang mengatur, beliau menyebutnya “Sesuatu Yang Agung” baginya tidak mungkin kebetulan akan seterstruktur dan serumit itu. Saya juga merasa kagum dengan penulis, yang memilih untuk meyakini “Sesuatu Yang Agung” dibandingkan dengan menuhankan ilmu pengetahuan itu sendiri seperti banyak ilmuwan di era modern. Buku ini dapat dibaca oleh semua penganut agama, penulis memposisikan diri senetral mungkin dan tidak menitikberatkan pada agama tertentu.
Selain itu, ada hal lain yang mebuat saya tertarik untuk terus membaca buku ini sampai kalimat terakhir, yaitu saat membaca buku ini saya tidak merasa sedang diajari atau sedang dimotivasi oleh motivator melalui sebuah buku, hal ini tampak dengan banyaknya penggunaan kata kita dalam buku ini, saya lebih merasa diajak berpikir bersama-sama dengan penulis sampai pada akhirnya saya belajar dan termotivasi dengan kehendak saya sendiri tanpa merasa digurui.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar